HUTA

HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU

Jumat, 03 September 2010

SEDIHMA Br. SILALAHI, PENARI TUJUH CAWAN dari DANAU TOBA

Tarian tujuh cawan merupakan salah satu tarian paling popular dari tanah Batak selain tortor. Tarian ini selau menjadi langganan bagi para pejabat maupun raja-raja pada zamannya. Selain itu tarian tersebut selalu mewakili Sumatera Utara di ajang pagelaran tingkat nasional maupun internasional.
Tapi siapa sangka ternyata tarian tersebut tidak bisa dipelajari sembarangan orang kecuali kalau memang sudah jodoh. Lewat turun temurun, tarian tujuh cawan dianggap sebagai tarian paling unik karena sang penari harus menjaga keseimbangan tujuh cawan yang diletakkan di kedua belah tangan kanan dan kiri tiga serta satu di kepala. “Ini bukan sekedar tari biasa, ini tarian misteri” kata Sedihma Br. Silalahi.

Ibu lima anak ini mengatakan tarian tujuh cawan mengandung arti pada setiap cawannya. Untuk cawan 1 mengandung makna kebijakan, cawan 2 kesucian, cawan 3 kekuatan, cawan 4 tatanan hidup, cawan 5 hukum, cawan 6 adat dan budaya, cawan 7 penyucian atau pengobatan. Kegunaan lain dari tarian ini adalah untuk membuang semua penghalang bagi orang yang hadir disitu, tentunya bagi yang percaya. Biasanya manusia punya kegagalan karna ada penghalang bawaan dari lahir, karma, guna-guna, atau akibat perbuatan sendiri.

Dari segi budaya, tarian ini merupakan tarian spiritual tertinggi di Danau Toba. Sekarang tarian ini juga digunakan untuk pelantikan menteri, walikota, bupati dll. Dari dulu tarian ini sudah menjadi kebanggan di kalangan orang Batak. Tarian ini juga dulunya digelar di opera Batak.
Pada tahun 2003 yang lalu, tarian tujuh cawan mewakili Indonesia di ajang pagelaran seni dan budaya tingkat dunia. Tiap tahun tarian ini selalu mewakili Sumut di ajang seni budaya tingkat nasional maupun internasional.

Sebelum menjadi penari tujuh cawan, Sedihma Br Silalahi bekerja di sebuah salon. Namun pada tahun 1991 lewat sebuah proses, anak bungsu tiga bersaudara ini beralih profesi menjadi panari tujuh cawan. Ia mengaku tidak pernah mempelajari tarian tersebut. Ia mengatakan tarian ini tidak bisa dipelajari, karna kalau dipelajari biasanya air yang ada di cawan bisa tumpah. Tarian ini membutuhkan gerakan yang gesit. Tarian ini didapat dari sebuah proses masuk lewat leluhur (kerasukan) Ratu Danau Toba.
Benar-benar tarian penuh misteri………..
Sumber : Harian Batak Pos (dengan beberapa perubahan)


Bila sobat2 bangso Batak mempunyai artikel / informasi ttg adat budaya Batak, dengan segala kerendahan hati kami mohonkan kesediaannya untuk mengirimkannya ke fb saya untuk selanjutnya saya kirimkan ke segenap 5000 an keluarga besar PARTOBA MARSADA. yang ada di komunitas ini dan akan kita cantumkan nama pengirimnya.
Hal ini tentu sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita bersama akan kekayaan adat dan budaya Batak.

Mauliate parjolo,,,

Horas... Mejuah-juah... Njuah-juah...

3 komentar: