HUTA

HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU

Selasa, 04 September 2012

Sejarah

Sejarah Singkat Pembentukan Kabupaten Dairi
A. Sebelum Penjajahan Belanda
Pemerintahan di Dairi telah ada jauh sebelum kedatangan penjajahan Belanda. Walaupun saat itu belum dikenal sebutan Wilayah/Daerah Otonomi, tetapi kehadiran sebuah pemerintahan pada zaman tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dengan adanya pengakuan terhadap Raja-raja Adat. Pemerintahan masa itu dikendalikan oleh Raja Ekuten/Takal Aur/Kampung/Suak dan Pertaki sebagai raja-raja adat merangkap sebagai Kepala Pemerintahan.
Adapun struktur Pemerintahan masa itu diuraikan sebagai berikut :
  1. Raja Ekuten, sebagai pemimpin satu wilayah (suak) atau yang terdiri dari beberapa suku/kuta/kampong Raja Ekuten disebut juga Takal Aur, yang merupakan Kepala Negeri.
  2. Pertaki, sebagai pemimpin satu Kampung, setingkat dibawah Raja Ekuten.
  3. Sulang Silima, sebagai pembantu pertaki pada setiap kuta (Kampung), yang terdiri dari : 1) Perisang-isang; 2) Perekur-ekur; 3) Pertulan tengah; 4) Perpunca ndiadep; 5) Perbetekken.
Menurut berbagai literatur sejarah bahwa wilayah Dairi sangat luas dan pernah jaya dimasa lalu. Sesuai dengan Struktur Organisasi Pemerintahan tersebut di atas, maka wilayah Dairi dibagi atas 5 (lima) wilayah (suak/aur) yaitu :
  1. Suak/Aur SIMSIM, meliputi wilayah : Salak, Kerajaan, Siempat Rube, Sitellu Tali Urang Jehe, Sitellu Tali Urang Julu dan Manik.
  2. Suak/Aur PEGAGAN dan Kampung Karo, meliputi wilayah : Silalahi, Paropo, Tongging, Pegagan Jehe dan Tanah Pinem.
  3. Suak/Aur KEPPAS, meliputi wilayah : Sitellu Nempu, Silima Pungga-Pungga, Lae Luhung dan Parbuluan.
  4. Suak/Aur BOANG, meliputi wilayah : Simpang Kanan, Simpang Kiri, Lipat Kajang, Belenggen, Gelombang Runding dan Singkil (saat ini Wilayah Aceh)
  5. Suak/Aur KLASEN, meliputi wilayah : Sienem koden, Manduamas dan Barus
B. Masa Penjajahan Belanda
Pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda, sejarah mencatat bahwa Raja Sisisngamangaraja XII semasa hidupnya cukup lama berjuang di Daerah Dairi, karena wilayah Bakkara dan wilayah Toba pada umumnya telah dibakar habis dan dikuasai oleh Belanda. Kondisi tersebut tidak memungkinkan lagi untuk bertahan dan meneruskan perjuangannya, sehingga beliau hijrah ke Dairi, beliau wafat pada tanggal 17 Juni 1907 di Ambalo Sienem Koden yang ditembak atas perintah komandan Batalion Marsuse Belanda, Kapten Cristofel.
Pada masa penjajahan Belanda yang terkenal dengan politik Devide Et Impera, maka nilai-nilai, pola dan struktur Pemerintahan di Dairi mengalami perubahan yang sangat cepat dengan mengacu pada system dan pembagian wilayah Kerajaan Belanda, maka Dairi saat ini ditetapkan pada suatu Onder Afdeling yang dipimpin seorang Cotroleur berkebangsaan Belanda dan dibantu oleh seorang Demang dari penduduk Pribumi/Bumi Putra. Kedua pejabat tersebut dinamai Controleur Der Dairi Landen dan Demang Der Dairi Landen.
Pemerintah Dairi landen adalah sebagian dari wilayah Pemerintahan Afdeling Batak Landen yang dipimpin Asisten Residen Batak Landen yang berpusat di Tarutung. Sistem ini berlaku sejak dimulainya perjuangan pahlawan Raja Sisingamangaraja XII dan berlaku juga sampai penyerahan Belanda atas penduduk Nippon (Jepang) pada tahun 1942.
Selama penjajahan Belanda inilah Daerah Dairi mengalami sangat banyak penyusutan wilayah, karena politik penjajahan kolonial Belanda yang membatasi serta menutup hubungan dengan wilayah-wilayah Dairi lainnya yaitu :
  1. Tongging, menjadi wilayah Tanah Karo;
  2. Manduamas dan Barus, menjadi wilayah Tapanuli Tengah;
  3. Sienem Koden (Parlilitan), menjadi wilayah Tapanuli Utara;
  4. Simpang Kanan, Simpang Kiri, Lipat Kajang, Gelombang, Runding dan Singkil menjadi wilayah Aceh.
Setelah kolonial Belanda menguasai Daerah Dairi, maka untuk kelancaran Pemerintahan Hindia Belanda membagi Onder Afdeling Dairi menjadi 3 (tiga) Onder Districk, yaitu :
1. Onder Districk Van Pakpak, meliputi 7 kenegerian yakni :
1.1. Kenegerian Sitellu Nempu;
1.2. Kenegerian Siempat Nempu Hulu;
1.3. Kenegerian Siempat Nempu;
1.4. Kenegerian Silima Pungga-Pungga;
1.5. Kenegerian Pegagan Hulu;
1.6. Kenegerian Parbuluan;
1.7. Kenegerian Silalahi Paropo;

2. Onder Districk Van Simsim, meliputi 6 (enam) Kenegerian yakni :
2.1. Kenegerian Kerajaan;
2.2. Kenegerian Siempat Rube;
2.3. Kenegerian Mahala Majanggut;
2.4. Kenegerian Sitellu Tali Urang Jehe;
2.5. Kenegerian Salak;
2.6. Kenegerian Ulu Merah dan Salak Penanggalan;

3. Onder Districk Van Karo Kampung, meliputi 5 (lima) Kenegerian, yakni :
3.1. Kenegerian Lingga (Tigalingga);
3.2. Kenegerian Tanah Pinem;
3.3. Kenegerian Pegagan Hilir;
3.4. Kenegerian Juhar Kedupan Manik;
3.5. Kenegerian Lau Juhar.

C. Masa Pemerintahan Penduduk Jepang
Setelah jatuhnya Hindia Belanda atas pendudukan Dai Nippon, maka pemerintahan Belanda digantikan oleh Militerisme Jepang. Secara umum pemerintahan Bala Tentara Jepang membagi wilayah Indonesia dalam 3 bagian yaitu :
  1. Daerah yang meliputi Jawa, berada di bawah kekuasaan Angkatan Darat yang berkedudukan di Jakarta;
  2. Daerah yang meliputi pulau Sumatera, berada di bawah kekuasaan Angkatan Darat yang berkedudukan di Tebing Tinggi;
  3. Daerah � daerah selebihnya berada di bawah kekuasaan Angkatan Laut yang berkedudukan di Makassar.
Pada masa itu pemerintahan Jepang di Dairi memerintah cukup kejam dengan menerapkan kerja paksa membuka jalan Sidikalang sepanjang lebih kurang 65 km, membayar upeti dan para pemuda dipaksa masuk Heiho dan Giugun untuk bertempur melawan Militer Sekutu.
Pada masa Pemerintahan Jepang pada dasarnya tidak terdapat perubahan prisipil dalam susunan Pemerintahan di Dairi. Karena tidak berubah susunan/struktur Pemerintahan di Dairi, tetapi mengganti jabatan lama, antara lain yaitu :
  • Demang diganti menjadi GUNTYO
  • Asisten Demang diganti menjadi HUKU GUNTY
  • Kepala Negeri diganti menjadi BUN DANYTO
  • Kepala Kampung diganti menjadi KUNTYO
Hal yang menarik dalam pengaturan tingkat Pemerintahan pada masa penjajahan Jepang adalah wilayah/Daerah Propinsi dihapus dan wilayah Keresidenan tingkatan yang tertinggi. Nama wilayah juga diganti dengan bahasa Jepang yaitu :
  • Keresidenan, diganti menjadi Syuu dan residen disebut Syuu-Co
  • Kabupaten, diganti menjadi Ken dan Bupati disebut Ken-Co
  • Kewedanaan, diganti menjadi Gun dan Wedana disebut Gun-Co
  • Kecamatan, diganti menjadi Son dan Camat disebut Son-Co
D. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
Setelah kemerdekaan diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, maka pasal 18 UUD 1945 menghendaki dibentuknya Undang-Undang yang mengatur tentang Pemerintahan Daerah, sehingga sebelum Undang-Undang tersebut dibentuk oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dalam rapatnya tanggal 19 Agustus 1945 menetapkan Daerah Republik Indonesia untuk sementara dibagi atas 8 (delapan) Propinsi yang masing-masing dikepalai oleh seorang Gubernur. Daerah Propinsi dibagi dalam Keresidenan yang dikepalai seorang Residen. Gubernur dan Residen dibantu ileh Komite Nasional Daerah.
1. Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945
Mengingat keadaan pada masa tersebut Belanda masih ingin menjajah kembali di Indonesia, sementara Undang-Undang belum dibentuk, maka dikeluarkanlah Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945 tentang pemberian kekauasaan legislative kepada Komite Nasional Indonesia Pusat, untuk mempertegas kedudukannya yang pada waktu dianggap sebagai Dewan Perwakilan Rakyat. Sehubungan dengan dikeluarkannya Maklumat Wakil Presiden No. X tersebut maka kedudukan Komite Nasional Daerah pun perlu ditegaskan. Untuk keperluan inilah maka dikeluarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1945 tentang kedudukan Komite Nasional Daerah.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1945, maka di Dairi dibentuk Komite Nasional Daerah untuk mengatur Pemerintah dalam mengisi Kemerdekaan dengan susunan sebagai berikut :

Ketua Umum : Jonathan Ompu Tording Sitohang
Ketua I : Djauli Manik
Ketua II : Noeh Hasibuan
Ketua III : Raja Elias Ujung
Sekretaris I : Tengku Lahuami
Sekretaris II : Gr. Gindo Muhammad Arifin
Bendahara I : Mula Batubara
Bendahara II : St. Stepanus Sianturi
Untuk melengkapi dan menampung aspirasi rakyat Dairi, dipulih pula anggota komisi sebanyak 35 orang yang tersebar di Daerah Dairi dan setiap Kewedanaan dibentuk pula pembantu Komite Nasional Daerah.
Tugas utama dari Komite Nasional Daerah adalah :
1. Mempersiapkan pemilihan Dewan Negeri;
2. Menyelesaikan Pemilihan Kepala Kampung;
3. Membentuk Pemerintahan dan Badan Perjuangan;
2. Masa Agresi Militer I
Pada masa Agresi Militer pertama yakni tanggal 6 Juli 1947 Belanda telah menguasai Sumatera Timur sehingga masyarakat Dairi yang berada di sana mengungsi kembali ke Dairi. Untuk menyelenggarakan Pemerintahan serta menghadapi perang melawan Agresi Belanda, maka Residen Tapanuli saat itu Dr. Ferdinand Lumbantobing, selaku Gubernur Militer Sumatera Timur dan Tapanuli, menetapkan Residen Tapanuli menjadi empat (4) Kabupaten yaitu :
1. Kabupaten Dairi;
2. Kabupaten Toba Samosir;
3. Kabupaten Humbang;
4. Kabupaten Silindung.
Berdasarkan surat Residen Tapanuli Nomor 1256 tanggal 12 September 1947, maka ditetapkanlah PAULUS MANURUNG sebagai Kepala Daerah Tk. II pertama di Kabupaten Dairi yang berkedudukan di Sidikalang, terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1947 (catatan : hari bersejarah ini berdasarkan kesepakatan pemerintah dan masyarakat kelak dikukuhkan sebagai hari jadi Kabupaten Dairi, melalui Keputusan DPRD Kab. Dati II Dairi Nomor 4/K-DPRD/1997 tanggal 26 April 1977).
Kabupaten Dairi saat itu dibagi menjadi tiga (3) Kewedanaan yaitu :
1) Kewedanaan Sidikalang dipimpin oleh J.O.T Sitohang. Kewenangan Sidikalang dibagi atas 2 (dua) kecamatan, yaitu:
a. Kecamatan Sidikalang, dipimpin oleh Tahir Ujung
b. Kecamatan Sumbul, dipimpin oleh Mangaraja Lumbantobing
2) Kewedanaan Simsim, dipimpin oleh Raja Kisaran Massy Maha. Kewedanaan Simsim dibagi atas 2 (dua) kecamatan, yaitu :
a. Kecamatan Kerajaan, dipimpin oleh Raja Kisaran Massy Maha
b. Kecamatan Salak, dipimpin oleh Poli Karpus Panggabean
3) Kewedanaan Karo Kampung, dipimpin oleh Gading Barklomeus Pinem. Kewedanaan Karo Kampung, dibagi atas dua (2) kecamatan, yaitu :
a. Kecamatan Tigalingga, dipimpin oleh Ngapid Dapid Tarigan
b. Kecamatan Tanah Pinem, dipimpin oleh Johannes Pinem
3. Masa Agresi Militer II
Pada Masa Agresi Militer II Belanda, maka hampir seluruh wilayah Indonesia dapat dikuasai kembali oleh Belanda, demikian juga halnya di Dairi bahwa pada tanggal 23 Desember 1948 Belanda telah berhasil menduduki Kota Sidikalang dan Tigalingga, sehingga saat itu Kepala Daerah Tk. II Dairi, Paulus Manurung menyerah sedangkan sebagian besar masyarakat serta Pegawai Pemerintah mengungsi dari Kota Sidikalang untuk menghindari serangan Belanda.
Untuk menyusun strategi melawan Agresi Belanda, maka Mayor Selamat Ginting selaku komandan sektor III sub teritorium VII memanggil Gading Barklomeus Pinem dan J.S. Meliala ke Kampung Jandi Tanah Karo. Berdasarkan surat perintah komandan sektor III sub teritorian VII tanggal 11 Januari 1949 Nomor 2/PM/1949 diangkatlah G.B.Pinem sebagai Kepala Pemerintahan Militer di Dairi dan J.S Meliala sebagai Sekretaris.
Untuk lebih menyempurnakan Pemerintahan Militer menghadapi Agresi Belanda maka Dairi dimekarkan dari 6 (enam) Kecamatan menjadi 12 (dua belas) Kecamatan.
Menjelang penyerahan (baca : pengakuan) kedaulatan wilayah Indonesia oleh Belanda, maka Pemerintah Militer di Dairi kembali ke Pemerintahan Sipil. Sebagai Kepala Pemerintahan Dairi adalah Raja Kisaran Massy Maha yang kemudian digantikan oleh Jonathan Ompu Tording Sitohang pada tanggal 10 Desember 1949. Pada masa tersebut Wilayah Kecamatan di Kabupaten diciutkan dari 12 (dua belas) Kecamatan menjadi 8 (delapan) Kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang dipimpin oleh Asisten Wedana, M. Bakkara;
2. Kecamatan Sumbul, ibukotanya Sumbul dipimpin oleh Wedana, Bonipasius Simangunsong;
3. Kecamatan Salak, ibukotanya Salak dipimpin oleh Asisten Wedana, Poli Karpus Panggabean;
4. Kecamatan Kerajaan, ibukotanya Sukaramai dipimpin oleh Asisten Wedana, Wal Mantas Habeahan;
5. Kecamatan Tiga Lingga, ibukotanya Tigalingga dipimpin oleh Asisten Wedana, Gayur Silaen;
6. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kuta Buluh dipimpin oleh Asisten Wedana, Ngapid David Tarigan;
7. Kecamatan Silima Pungga-Pungga, ibukotanya Parongil dipimpin oleh Asisten Wedana Alex Sitorus;
8. Kecamatan Siempat Nempu, ibukotanya Buntu Raja dipimpin oleh Asisten Wedana, Urbanus Rajagukguk.
Setelah situasi dan kondisi kembali normal dari pergolakan Agresi Militer dengan adanya pengakuan kedaulatan, maka sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 yaitu Undang-Undang pokok tentang Pemerintahan Daerah yang sebenarnya telah mulai berlaku sejak diumumkan pada tanggal 1 April 1950, Kabupaten Dairi menjadi bagian dari wilayah hokum Kabupaten Tapanuli Utara.
Akan tetapi berhubung pemulihan Pemerintahan RI akan terjadi, K.M. Maha dipanggil Residen Tapanuli ke Sibolga dan tidak kembali lagi melaksanakan tugas sebagai Kepala Pemerintahan Militer Kabupaten Dairi, sehingga J.O.T. Sitohang diangkat menjadi Kepala Daerah Tk. II Dairi.
Perubahan struktru Pemerintahan setelah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia serta pemulihan keamanan bahwa Kecamatan tetap 8 (delapan), Kewedanaan dihapus, Kenegerian dan Kampung berjalan sebagaimana biasa.
4. Masa Pemberontakan PRRI
Kemudian peristiwa terjadi pada tahun 1958, karena timbulnya peristiwa pemberontakan PPRI yang mengakibatkan terputusnya hubungan antara Sidikalang (Dairi) dengan Tarutung sebagai ibukotanya Tapanuli Utara. Atas kondisi rawan tersebut, maka untuk menjaga kevakuman Pemerintahan oleh Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara dengan suratnya Nomor 656/UPS/1958 tanggal 28 Agustus 1958 mengambil kebijakan penting dalam Pemerintahan dengan menetapkan Daerah Dairi menjadi Wilayah Administratif yaitu ; Coordinator Schaap, yang secara langsung berurusan dengan Propinsi Sumatera Utara. Untuk mengisi Coordinator Schaap Pemerintahan di Dairi dihunjuk sebagai pimpinan adalah Nasib Nasution (Pati pada Kantor Gubernur Sumatera Utara), dan tidak begitu lama diangkatlah Djauli Manik sebagai Schaap Pemerintahan Dairi.
5. Perjuangan Pembentukan Daerah Otonom
Sejak tahun 1958, aspirasi masyarakat Dairi untuk memperjuangkan Daerahnya sebagai Kabupaten yang Otonom tetap tumbuh berkembang dengan mengutus pertama Tokoh masyarakat ke Jakarta untuk menyampaikan hasrat dimaksud agar disetujui. Aspirasi dan tuntutan tersebut terus berkembang sampai tahun 1964 dan saat itu tokoh masyarakat, Mengantar Dairi Solin, dkk diutus dan berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkannya di Departemen Dalam Negeri. Akhirnya pertimbangan persetujuan pemerintah pusat c.q Menteri Dalam Negeri saat itu Bpk. Sanusi Hardjadinata yang pada tahun itu menyetujui Daerah Otonom Kabupaten yang terpisah dari Kabupaten Tapanuli Utara.
Dalam situasi tersebut dikeluarkan Undang-Undang darurat yaitu Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor. 4 tahun 1964 tanggal 13 Pebruari 1964 tentang pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi dan pemilihan Bupati yang Defenitif, maka diangkatlah Rambio Muda Aritonang sebagai pejabat Bupati KDH Dairi setelah beliau selesai menyusun Anggota DPRD sebanyak 20 orang, dilanjutkan dengan pemilihan Bupati.
Saat itulah terpilih Mayor Raja Nembah Maha, yang memperoleh suara terbanyak menjadi Bupati KDH Tingkat II Dairi dan Wal Mantas Habeahan terpilih sebagai Sekretaris Daerah.
Kemudian oleh Pemerintah Pusat dan DPR RI, ditetapkanlah Undang-Undang Nomor.15 Tahun 1964 tentang pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi (sebagai Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1964).
Peresmian Kabupaten Daerah Tingkat II Otonom dilakukan oleh Gubernur Sumatera Utara oada tanggal 2 Mei 1964 bertempat di Gedung Nasional Sidikalang.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1964 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi, yang berlaku surat mulai tanggal 1 Januari 1964, maka wilayah Kabupaten Dairi pada saat pembentukannya terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan yaitu:
1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang;
2. Kecamatan Sumbul, ibukotanya Sumbul;
3. Kecamatan Tigalingga, ibukotanya Tigalingga;
4. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kutabuluh;
5. Kecamatan Salak, ibukotanya Salak;
6. Kecamatan Kerajaan, ibukotanya Sukarame;
7. Kecamatan Silima Pungga-Pungga, ibukotanya Parongil;
8. Kecamatan Siempat Nempu, ibukotanya Bunturaja;
6. Berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974
Pada masa berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, maka telah ditetapkan dalam pasal 75 bahwa pembentukan, Nama, Batas, Sebutan, Ibukota Wilayah Administratif (termasuk Kecamatan) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Proses pembentukan Kecamatan diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 138-210 tahun 1982 tanggal 3 Maret 1982 tentang Tata Cara Pembentukan Kecamatan dan Perwakilan Kecamatan maupun Surat Edaran Mendagri Nomor 138/2603/PUOD tanggal 7 Juli 1981, Perihal; Prosedur Penyelesaian masalah pembentukan Wilayah Kecamatan.
Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, meningkatkan kegiatan pembangunan dan semakin bertambahnya volume tugas Pemerintahan, maka wilayah Kabupaten Dairi dari 8 (delapan) Kecamatan agar dibentuk 4 (empat) Perwakilan Kecamatan baru sebagai pemekaran dari 4 (empat) Kecamatan yaitu:
  1. Perwakilan Kecamatan Parbuluan dengan ibukotanya Sigalingging, sebagai pemekaran dari Kecamatan Sidikalang;
  2. Perwakilan Kecamatan Pegagan Hilir dengan ibukotanya Tigabaru, sebagai pemekaran dari Kecamatan Tinga Lingga;
  3. Perwakilan Kecamatan Siempat Nempu Hulu dengan ibukotanya Silumboyah, sebagai pemekaran dari Kecamatan Siempat Nempu;
  4. Perwakilan Kecamatan Siempat Nempu Hilir dengan ibukotanya Sopo Butar, sebagai pemekaran dari Kecamatan Siempat Nempu.
Sesuai dengan Surat Persetujuan Menteri Dalam Negeri Nomor 138/579/PUOD tanggal 7 Pebruari 1985 perihal Pembentukan Perwakilan Kecamatan di Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, maka ditetapkanlah Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor 138/1373/K/THN 1985 tanggal 25 Maret 1985 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi. Peresmian 4 (empat) Perwakilan Kecamatan tersebut dilaksanakan tanggal 25 Mei 1985 oleh pembantu GUBSU Wilayah II yang dipusatkan di Sigalingging ibukota Perwakilan Kecamatan Parbuluan.
Dalam rangka pembinaan dan pengawasan di Wilayah Kecamatan/Perwakilan Kecamatan, maka dibentuklah 2 (dua) Kantor Pembantu Bupati KDH Tk. II Dairi berdasarkan Keputusan Dalam Negeri No. 136.22-310 tanggal 9 April 1985 tentang Pembentukan Wilayah kerja Pembantu Bupati KDH Tk.II Dairi dalam Wilayah Provinsi Dati I Sumatera Utara dan Keputusan Gubernur KDH Tk.I Sumatera Utara Nomor 061.1 � 2384 tentang pembentukan pembantu Bupati KDH Tk.II Dairi Wilayah I dan II.
Adapun pembagian Wilayah pembantu KDH Tk.II saat itu adalah sbb:
A. Wilayah I yang berpusat di Sumbul, terdiri dari :
1. Kecamatan Sidikalang
2. Kecamatan Sumbul;
3. Kecamatan Salak;
4. Kecamatan Kerajaan;
5. Perw. Kecamatan Parbuluan
B. Wilayah II yang berpusat di Tigalingga, terdiri dari :
1. Kecamatan Tigalingga;
2. Kecamatan Tanah Pinem;
3. Kecamatan Silima Pungga-Pungga;
4. Kecamatan Siempat Nempu;
5. Perw. Kecamatan Siempat Nempu Hulu;
6. Perw. Kecamatan Siempat Nempu Hilir;
7. Perw. Kecamatan Pegagan Hilir;
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1991 tanggal 7 September tahun 1991, maka perwakilan Kecamatan Parbuluan dipisahkan dan ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan yang Definitif dan diresmikan oleh Gubernur KDH Tk.I Sumatera Utara tanggal 30 Oktober 1991 di Sigalingging.
Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1992, tanggal 13 Juli 1992, maka Perwakilan Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Siempat Nempu Hulu dan Pegagan Hilir ditetapkan menjadi Kecamatan Defenitifd dan diresmikan secara terpusat oleh Gubernur KDH Tk.I Sumatera Utara pada tanggal 19 Oktober 1992 di Kecamatan Pagaran, Kabupaten Tapanuli Utara.
7. Berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999
Setelah pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka sesuai ketentuan pasal 66 ayat (6) bahwa pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Dengan mempedomani Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2000 tentang pedoman Pembentukan Kecamatan, maka menyikapi Aspirasi masyarakat yang telah lama tumbuh dan berkembang di Kecamatan Silima Pungga-Pungga dan Kecamatan Salak dibentuklah 2 (dua) Kecamatan baru di Kabupaten Dairi yaitu Kecamatan Lae Parira, sebagai pemekaran dari Kecamatan Silima Pungga-Pungga dan Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, sebagai pemekaran dari Kecamatan Salak, kedua kecamatan ini ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 33 Tahun 2000 tentang pembentukan Kecamatan Lae Parira dan Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe.
Mengawali berlakunya Otonomi Daerah Kabupaten Dairi telah diresmikan secara definitive pembentukan 2 (dua) kecamatan baru tersebut yaitu Kecamatan Lae Parira yang diresmikan Bupati Dairi pada tanggal 13 Pebruari 2001 di Lae Parira (ibukota Kecamatan Lae Parira) dan Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, yang diresmikan pada tanggal 15 Pebruari 2001 di Sibande (ibukota Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe).
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Dairi Nomor 15 tahun 2002 tentang pembentukan Kecamatan Berampu dan Kecamatan Gunung Sitember, maka Bupati Dairi meresmikan Kecamatan Gunung Sitember, tanggal 11 Maret 2003 di desa Gunung Sitember (ibukota kecamatan). Dan meresmikan Kecamatan Berampu pada tanggal 10 April 2003 di Desa Berampu (ibukota Kecamatan).
8. Pembentukan Kabupaten Pakpak Bharat
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 9 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat, dan Kabupaten Humbang Hasundutan di Provinsi Sumut (lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 29, tambahan lembaran Negara Nomor 4272), maka telah ditetapkan wilayah Kabupaten Pakpak Bharat yang terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan yaitu ;
1. Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe
2. Kecamatan Kerajaan
3. Kecamatan Salak
Peresmian Kabupaten Pakpak Bharat serta pelantikan Pejabat Bupati Pakpak Bharat Drs. Tigor Solin, dilaksanakan pada hari Senin tanggal 28 Juli 2003 di Medan oleh Mendagri, Hari Sabarno.
Pada tanggal 1 Juni 2004 melalui Sidang Paripurna DPRD Kab. Dairi ditetapkanlah Peraturan Daerah Kabupaten Dairi Nomor 6 tahun 2004 tentang pembentukan Kecamatan Silahisabungan sebagai hasil pemekaran dari Kecamatan Sumbul. Kecamatan Silahisabungan diresmikan Bupati Dairi (DR. M.P. Tumanggor) tanggal 14 Juli 2004 di Silalahi.
Tanggal 31 Agustus 2005 melalui Sidang Paripurna DPRD Kab. Dairi ditetapkan pada Perda Kab. Dairi No.6 tahun 2005 tentang Pembentukan Kel. Panji Dabutar hasil Pemekaran dari Kel. Batang Beruh, dan Perda No. 7 Tahun 2005 tentang Pembentukan Kec. Sitinjo yang merupakan hasil dari Pemekaran dari Kec. Sidikalang. Kecamatan Sitinjo diresmikan pada tanggal 14 September 2005 oleh Bupati Dairi (DR. M.P. Tumanggor).
Sampai bulan Desember 2009, wilayah Kabupaten Dairi terbagi atas : 15 Kecamatan, 8 kelurahan dan 161 desa.
1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang;
2. Kecamatan Sumbul, ibukotanya Sumbul;
3. Kecamatan Silima Pungga-Pungga, ibukotanya Parongil;
4. Kecamatan Siempat Nempu, ibukotanya Buntu Raja;
5. Kecamatan Tigalingga, ibukotanya Tigalingga;
6. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kuta Buluh;
7. Kecamatan Parbuluan, ibukotanya Sigalingging;
8. Kecamatan Pegagan Hilir, ibukotanya Tigabaru;
9. Kecamatan Siempat Nempu Hulu, ibukotanya Silumboyah;
10. Kecamatan Siempat Nempu Hilir, ibukotanya Sopo Butar;
11. Kecamatan Lae Parira, ibukotanya Lae Parira;
12. Kecamatan Gunung Sitember, ibukotanya Gunung Sitember;
13. Kecamatan Berampu, ibukotanya Berampu;
14. Kecamatan Silahisabungan, ibukotanya Silalahi;
15. Kecamatan Sitinjo, ibukotanya Sitinjo.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Ompu Gordon Boru, facebooker dari "huta nami" yg sering mengagetkan krn status-statusnya sering kontroversial, suatu malam membacai status temannya dng cara membuka "home".

Tapi, mood-nya lagi buruk karena baru berselisih dng suaminya, Ompu Gordon Doli, yg kian jarang membelainya, hingga mulutnya dimonyongkan, kening berkerut, mata mengecil, kebiasaannya bila lagi bete.

"Aduh, kema
na sich my hubby ini? Kangen dech... Pulang donk....kangen nich," tulis Nai Barbari di satusnya, facebooker dari Balige.

"Lagi nunggu cayang-cayangan ama Yayang koe," tulis Nai Brikney, facebooker dari Siborongborong.

"Enak banget, abis krimbat trs bobo-bobo nunggu my darling. Tapi koq blm pulank cih? Ngak tau apa ditungguin???" tulis Mak Gregori, facebooker dari Sipoholon.

Kening Ompu Gordon Boru makin mengerut, mulutnya pun semakin maju ke depan.

"Q ta tlah saling mencinta, kan bersatu slalu, forever... Good night honey, miss you. Andai kamoe ada di sisiku, indah bangets," tulis Novita, facebooker muda dari Sipiongot.

"Mengharap dirimu ada disisiku hasian," tulis Dorkaswati, facebooker dari Sitahuis.

"malam neh mank kamu gak jd datang ea? Aq dah rindu X pon," tulis Silpianna, facebooker dari Aek Kanopan.

Ompu Gordon Boru buru-buru membuka wall-nya, lalu menulis status dlm Bhs Batak yg tdk baku:

"Papuas hamu bema! Bissan poso dope hamu! Haduan aeon muna do molo dung hutuk-hutuk!!!! Tung lanoki pe dang olo be jonok!!!"

(Puas-puasin deh mumpung masih muda. Nanti akan kalian rasakan kalau badan sdh goyah. Laler aja ngak mau mendekat)

Ompu Gordon Boru lalu menutup facebook-nya, bergegas ke tempat tidur, menyelimuti muka dan sekujur tubuhnya. Dia bayangkan, pasti sdh banyak masuk tanggapan dari teman facebook-nya, namun sengaja dia menghindar.

***
Paginya dia intip wall-nya, penasaran membacai komentar yg masuk. Perkiraannya pasti sdh di atas 200, seperti biasa, dng bermacam komentar.

Ternyata tak satu tanggapan pun masuk! Ompu Gordon Boru heran bercampur galau.

Dengan emosional, dia kemudian menulis status:

"Pengen married lagi!"

:-)

Rabu, 04 Juli 2012

SURAT SHINTA NI SADA AMA2 NA MANSAI HOLONG TU PARSONDUK BOLONNA
(Quoted by Ama Tarigil)

Umak ni si Butet....♥
Mancai holong situtu do rohangku tu ho hasian.
Tung nabalga ba hinaulinibasam tu ripetta on.
So tahuak do pe manuk, dungo do ho mangaradoti angka naringkot, atik pe so dungo do pe ahu, adong ma i namngaloppa, diparade ho muse paridianhu, hinorhon ni ngali ni hutata on. Hape ianggo ho, maridi aek ngali do.
Dung mullop mataniari, ipe asa didungoi ho ahu, huhut didok ho "Hasian, ia dungo ma ho da raja doli, nga huparade paridianmu. Hubahen ma kopim?" nimmu do.
Dungkon i, di tingki maridi ahu, nga di sangahon ho pature angka dakdanak, laos disangahon manaruhon tu parsikkolaan.
Ia dung attar hos ari i, ho muse do jumolo tu porlak an, ia ahu dang ra marnasikkop manjaha koran on, huhut minum kopi namansai angur pinatupami.
Ia dung arian, jumolo otik do ho mulak sian ladang sian ahu, alai dung mulak ahu tu bagasta, nga rade-rade sipanganon sude dipatupa ho.
Dung sippul manggadong siarian, husangahon modom tongkin, ia ho, sanga do tu jabu sadaan martiga-tigahon baju rombengan dohot parfum nasongik i. Atik satamba angka pansamotan di dok roham.
Ia dung bot ari, dijouhon ho do tu buha bajutta asa dipareso dorbia, atik pe mangulahon sude huhut attar adong ungut-ungutmu. Alai radot do ho sude ugasanmu. Sikkop pinahanmi, anakkonmi diparmudu-mudu ho, jala diajar-ajari ho bornginna i. Ianggo ahu, tontong do marsitotol matakkon di jolo ni tivi on. Atik naung boha negara on.
Alai sai nimmu ma, loja na i ho pasari-sari bangso on, ia ripem namet-met on ma sarihon.
Atik pe attar songon narimas idaon bohim, ia dung jumpa tingki modom, panganjumi ma hasian. "Pa, sogot tu hauma do, modom ma hita hasian, asa paulak gogo dah" huhut didampol ho tanggurunghi.

Umak ni butet nauli lagu....♥
Sipata lungun do rohaku..
Sai hira gok dosa do sipata huhilala...
Sasintong ni situtu, tung so dipaido rohakku do ho, songon i loja...
Mama santtik....♥
Unang sai malojahu ho hasian....
Boha ma, ia hulului sadanari omak ni butet on hasian????!@#$%^&*()!!!!!

Rabu, 27 Juni 2012

Ringkot ma nian rohangku di sada tingki diringkkon boi gabe:

* Ahli ekologi/ pebisnis AMDAL, ai sude hubereng perusahaan na adong nuaeng on, ai holan mangharingkothon keuntungan na tung mansai balga, alai angka panghorhon ni naniulada ondeng tu liat portibi on so dianturehon.
* Karejo di Freeport 5 taon torussimpan modal, langsung bangun galon di huta torus molo maju do galon i, so ma jo na karejo, alai gabe bos ma di huta (on utok-utok serakah nga mullop)
* Adong donganhu pemodal, hulului gabe pemasok bibit pohon au di huta, ia so i manatau boi mambuka bank pohon di huta, asa uli huta na mi i.
* Mengaranto tu luar negri, kerja di Jepang, Belanda, Jerman (sekalian cari ilmu, di sada tingki boi mulak tu huta, laho MARTABE)
* Bentuk group Partoba marsada di kehidupan nyata.
* Pebisnis pariwisata di Muara
* Penyelam pertama dasar ni Tao toba mangojakhon simanjojakhon di sude saluhut dolok na timbo na adong di portibion, jala sai ma i bahenonhu 2050.
* Mandalani liang na adong di batuharang tombus ro di bakara (laos mambahen on rute liburan mengasikkan di ujung taon).
* Eksplorasi humbahas sekaligus ekspedisi expo ( sude ma na sa na boi dieksplor ate => alai utok2 serakah, sai anggiat boi nian diminimalisir)
* Pelatih Saxophone (bah... belajar pe dang do pe)
* Penari balet (amangtahe, gonting marjogal do)
* Parende songon Nahum Situmorang (nga naeng paruakon aru-aru on ate)
* Paredang-edang, naboi mandalani saluhutna portibi on. Dalananma Jepang, belanda, ( ai boasa boi nasida manjajah tano ni omputta, molo boi paulak sude arta natinangko ni halaki hian sian hutanami on) termasuk ma angka buku laklak. =>WAJIb
* Gabung tu NGO Green Peace, manang bentuk sandiri margoar “Partoba Pe Boi do Manghatai” =>bahas masalah lingkungan,politik, kenyamanan ni portibi.
* Aktif di bidang budaya, anggiat bahasa Batak gabe bahasa Internasional.
* Ingkon pasauton do penjajahan Balik tu Bolanda dohot Japang, Laos Marhata toba na sida bahenon. (halak pajonjong hotel nalima tingkat, iba HOTEL ma ni panjonjong di rohaniba sasahali... hahahaha)
* Gabung tu partai politik, anggiat di sada tingki boi gabe politisi handal, sedikitna anggota legislatif humbahas 2030 (alai dang naeng dohot di politik praktis da...)
* Calon independen pe ta ho jadi ma asal ma gabe boi gubernur Sumut 2039 manang sedikitna ma bupati Humbahas 2040 kan 2050 gabe presiden RI dohot ibukotana gabe pinda tu Kalimantan, Pulo Jawa paulak gabe juma, ala uli do tanona gabe paremean, Selawesi, NTB, Nias, Mentawai gabe bi wisata Laut utama dunia ganti ni Hawai.
* Manambok tobing na di toru nihuta na mi i gabe sada tao nauli, anggiat sada tingki boi sude liat portibi on tumanda hutanami Si Jaba Losung Aek. (bah.... boasa gabe turun muse angan-angan on hamuna..!!!)
* Pangke panas bumi na di toru ni Tao Toba gabe sumber daya listrik terbesar di portibi on. (Asa boi pajonjong Bangso Batak gabe bangso namargoar ro di liat desa nauala)
* Paulak Barus gabe pusat pelabuhan terbesar di Indonesia songon si na uju i.
* Patandahon tu Israel, ai Batak i bangso natarpillit bangso nanihaholongan ni Debata (dang holan bangso ni halak i)
* Tamat tibu sian Biologi langsung karejo ( asa bebas iba berkreasi tu saluhut na angan2hon).=>On ma sahit i....!!!

Di ujung ni angan-anganhon, mengkel suping ma ahu, jala hudok tu diriku.... Boto lungunmu... Ula na sa siulaonmu, jala pangke ma na sa gogo dohot pikkiranmu mangasahon Tuhan i.... Hehehe..
Siapa pencipta kejahatan???

Prof: "Apakah Tuhan menciptakan segala yg ada ?"
Mhsw: "Benar..Tuhan yg menciptakan semuanya."
"Tuhan menciptakan semuanya?" tanya prof sekali lagi.
"Ya Prof, semuanya," kata mhsw itu.
Prof: "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan
menciptakan Kejahatan."
Mhsw itu terdiam & kesulitan menjwb hipotesis Prof tsb.
Suasana hening dipecahkan
oleh suara salah satu mhsw,
"Prof, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si Prof.
Mhsw : "Prof, apakah dingin itu ada ?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada."
Mhsw itu menyangkal, "Kenyataannya, Prof, dingin itu tdk ada. Menurut hukum fisika, yg kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.
Suhu-460F adlh ketiadaan panas sama sekali & semua partikel menjadi diam & tdk bisa bereaksi pada suhu tsb.
Kita menciptakan kata dingin utk mendeskripsikan ketiadaan panas".
Mhsw itu melanjutkan...
"Prof, apakah gelap itu ada ?"
Prof menjwb, "Tentu saja itu ada."
Mhsw itu menjwb, "Sekali lagi anda salah, Prof. Gelap jg tdk ada. Gelap adalah keadaan dimana tdk ada cahaya. Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak.
Kita bisa menggunakan prisma Newton utk memecahkan cahaya jadi beberapa warna & mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tak bisa mngukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dgn berapa intensitas cahaya di ruangan tsb.
Kata gelap dipakai manusia utk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mhsw itu bertanya,
"Prof, apakah kejahatan itu ada ?"
Dengan bimbang prof itu menjwb, "Tentu saja !"
Mahasiswa itu menjwb,
"Sekali lagi anda salah, Prof. Kejahatan itu TIDAK ADA. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan di dalam diri seseorang.
Seperti dingin atau gelap, kejahatan adlh "kata" yg dipakai manusia utk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan di dalam diri manusia. Tuhan tdk pernah menciptakan kejahatan.
Kejahatan adalah hasil dr tdk adanya Tuhan di hati manusia." Profesor itu terdiam...
(Mhsw = Albert Einstein, "Relativity is about all but not for God"
Cewek lebih perhatian dari cowok

Cerita dari seorang Bapak pagi-pagi ini (Suhunan Situmorang).

Di rumah kami, barangkali begitu juga di rumah kalian, anak perempuan lebih perhatian dan peduli pd orangtua dibanding anak lelaki. Contohnya pagi tadi, di kamar--sementara si nyonya masih di Cisarua, mengikuti acara 'seksi parompuan HKBP' level distrik Jkt.

Ayu : Ada acara apa Pak hari ini, kok pake batik?

Echa : Kan tadi bapak udah bilang jadi pembicara di hotel Millenium.

Ayu : Pliss deh Pak, kok batiknya itu-itu melulu.

Echa : Tauk nih bapak. Kasian amat...

Aku : Ngak apa-apa, tho? Memang knp? Kan msh layak dipakai?

Ayu : Tapi udah sering dipake, pak.

Echa: Iya nih, beli kek Pak yg baru. Msak batik bapak itu-itu aja.

Aku : Akh masih bagus kok, boru (sambil memerhatikan di cermin meja rias si nyonya).

Echa: Nanti orang-orang yg lihat bapak bilang lho, batiknya bapak itu-itu aja. Kasihan amat.

Ayu: Iya pak. Kan kasihan bapak.

Aku: Kan peserta workshop atau seminar itu beda-beda, boru. Mereka kan ngak tahu baju ini sdh pernah bapak pake.

Echa: Ampuuun deh si bapak ini, kayak ngak bisa beli aja.

Aku : Batik bapak sebenarnya lumayan banyak kok. (dng pede)

Ayu : Iya, tapi ada yg udah seumuran Ayu...

Aku : Bapak lagi ngak punya duit, boru. Nantilah (dgn mimik dan suara seolah amat prihatin)

Ayu: Ambil aja dulu Pak duit di tabungan Ayu. Nanti Ayu bilang deh sama Mama biar diambil dari bank.

Echa: Iya Pak, pake duit tabungan Echa juga.
------

Sesudah selesai presentasi atas undangan 'Bank Andara,' sbh bank umum yg segmented, khusus menyalurkan kredit bagi bank-bank BPR, HP kuaktifkan. Di antara misscall, bbm, dan sms yg masuk, salah satu sms dari anak lelaki satu-satunya itu:

"Pak jng lupa ganti duitku yg kepake utk beli lauk makan malam Tulang dan nantulang semalam. Malas dah klo minta ke mama, pasti ditanya-tanyain. Bpk aja yg ganti, transfer aja. Jng terlalu pas ya, pak."

Coba, beda banget kan? :-(

Selasa, 05 Juni 2012

Penjual Minyak Goreng dan Malaikat

Seorang penjual minyak goreng keliling seperti biasa menjajakan dagangannya di tepian Sungai Citarum. "Nyak nyak minyaaak..." teriaknya. Di jalanan menurun tiba-tiba gerobaknya yang penuh dengan botol minyak tergelincir ke Sungai Citarum.

Plung ...lap... tenggelam lah gerobak kesayangan nya itu. Huuu..huuu.. .menangislah dia... "Harus kuberi makan apa istriku nanti...huuu...."

Tiba-tiba... seorang Malaikat baik hati muncul & bertanya."Hai Fulan ...? kenapa gerangan sehingga engkau menangis begitu.?

Ternyata, penjual itu namanya Fulan...

"Oh Malaikat, gerobak minyak goreng saya tergelincir ke sungai." keluh Fulan.

"Baiklah ... aku akan ambilkan untukmu." jawab Malaikat.

Tiba-tiba Malaikat itu menghilang & muncul lagi dengan sebuah kereta kencana dari emas, penuh dengan botol dari intan.

"Inikah punyamu?" tanya Malaikat.

"Bukan, gerobakku tidak sebagus itu, mana mungkin penghasilan saya yang 200 ribu sebulan bisa beli kereta kencana ? Itu pun sudah ditambah komisi penjualan yang cuma sedikit."

Malaikat itu pun menghilang lagi & muncul dengan sebuah kereta perak dengan botol dari perunggu.

"Inikah punyamu?" tanyanya lagi.

"Bukan, hai Malaikat yang baik, Punyaku cuma dari besi biasa, botolnya juga botol biasa"

Lalu Malaikat itu pergi lagi dan kali ini kembali dengan gerobak dan botol si Fulan.

"Inikah punyamu?"

"Benar ya Malaikat. Terima kasih sekali engkau telah membantu yang lemah ini untuk mengambilkannya untukku."

Malaikat berkata : "Engkau jujur sekali, ya Fulan. Untuk itu sebagai hadiah dari kejujuranmu aku berikan semua kereta dan botol tadi untukmu."

"Terima kasih ya Tuhan ... terima kasih ya Malaikat." ucap si Fulan

Sebulan kemudian, Fulan naik perahu bersama istrinya di sungai yang sama. Naas tak dapat ditolak, malang tak bisa dihindari, Perahu terbalik & istrinya hanyut.

"Huuu, huuu, istriku, di mana engkau..", isaknya,

Tiba-tiba Malaikat pun muncul lagi. "Kenapa lagi engkau ya Fulan..?

"Istri saya hanyut & tenggelam di sungai, hai Malaikat.. Ohhh..."

"Tenang ... aku ambilkan.... "

Malaikat itu menghilang & tiba-tiba muncul kembali sambil membawa Nafa Urbach, yang ada tato mawar di perutnya.

"Inikah istrimu?" tanya Malaikat.

"Betul,betul sekali ya Malaikat... dialah istriku."

"Haaaaaaiiii...Fulan!!!" Malaikat membentak marah."Sejak kapan kamu berani bohong? Di manakah kejujuran kamu sekarang?"

Sambil bergetar dan berjongkok, Fulan berkata :"Ya, Malaikat, kalau aku jujur, nanti engkau menghilang lagi dan membawa Titi Kamal, kalau kubilang lagi bukan, maka engkau akan menghilang lagi dan membawa Andi Soraya, lalu kalau kubilang bukan juga engkau menghilang lagi dan membawa istriku yang sebenarnya, Lalu.. engkau akan bilang bahwa aku jujur sekali & engkau akan memberikan ke empat-empatnya kepadaku. Buat membiayai hidup isteriku aja aku kerepotan ya Malaikat, apalagi Nafa Urbach atau Titi Kamal, aduh berat ya Malaikat.."

Malaikat pun termangu dan angguk angguk."Benar juga kamu Fulan, kamu realistis.."

Rabu, 16 Mei 2012

Aksara Batak



Surat Batak adalah nama aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa Batak. Surat Batak masih berkerabat dengan aksara Nusantara lainnya. Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Aksara Batak terdiri dari beberapa varian macam yaitu Aksara Batak Pakpak, Aksara Batak Simalungun, Aksara Batak Karo, Aksara Batak Mandailing, dan Aksara Batak Toba.. Aksara ini wajib diketahui oleh para datu, yaitu orang yang dihormati oleh masyarakat Batak karena menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, aksara ini masih dapat ditemui dalam berbagai pustaha, yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.
Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan pustaha. Pustaha-pustaha ini yang ditulis oleh datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum.

Ciri khas

Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut abugida, jadi merupakan sebuah perpaduan antara alfabet dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung sekaligus konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah.

Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu. Penulisan dimulai dari bawah ke atas, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan.
Penulisan huruf surat batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ina ni surat dan anak ni surat.

Aksara Batak walau terdiri dari beberapa varian, Aksara tersebut ada persamaan dan ada sedikit perbedaan, sebagai gambaran perhatikan tabel perbandingan Aksara-aksara Batak tersebut

Ina ni surat

Ina ni surat merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha/ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo.
Alfabet
Latin
Surat Batak
Karo Toba Dairi Simalungun/
Timur
Mandailing
a
A
A
A
A
A
ha
Ha
Ha
Ha
Ha
Ha
ka
Ka
Ka
Ka
Ka
Ka
ba
Ba
Ba
Ba
Ba
Ba
pa
Pa
Pa
Pa
Pa
Pa
na
Na
Na
Na
Na
Na
wa
Wa
Wa
Wa
Wa
Wa
Wa
ga
Ga
Ga
Ga
Ga
Ga
ja
Ja
Ja
Ja
Ja
Ja
da
Da
Da
Da
Da
Da
ra
Ra
Ra
Ra
Ra
Ra
ma
Ma
Ma
Ma
Ma
Ma

Alfabet
Latin
Surat Batak
Karo Toba Dairi Simalungun/
Timur
Mandailing
ta
Ta
Ta
Ta
Ta
Ta
Ta
sa
Sa
Sa
Sa
Sa
Sa
ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
nga
Nga
Nga
Nga
Nga
Nga
la
La
La
La
La
La
nya
Nya

Nya
Nya
ca
Ca
Ca

Ca

Ca
nda
Nda

mba
Mba

i
I
I
I
I
I
u
U
U
U
U
U
Oleh karena Banyak mempunya persamaan, sebagai contoh saya akan mengambil satu jenis Aksara Batak yaitu Aksara Batak Toba
Bentuk hurup serta pengetikan

Anak ni surat

Anak ni surat dalam aksara batak adalah komponen fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (yang juga disebut tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berupa tanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari:
  • Bunyi [e] (hatadingan)
  • Bunyi [ŋ] (paminggil)
  • Bunyi [u] (haborotan)
  • Bunyi [i] (hauluan)
  • Bunyi [o] (sihora)
  • Pangolat (tanda untuk menghilangkan bunyi [a] pada ina ni surat)


Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam aksara Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [ŋ], [x]. Tanda diakritik juga memiliki varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah lainnya yang menggunakan aksara yang sama. Di bawah ini disajikan contoh penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
Di bawah ini disajikan contoh penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
Transliterasi
Latin
Surat Batak
Karo Toba Dairi Simalungun/
Timur
Mandailing
ke
Ke

Ke


Ke
Ke
Ke
Ke
Ke
ki
Ki
Ki
Ki
Ki
Ki
Ki
ko
Ko
Ko
Ko
Ko
Ko
Ko
kou
Ke

ku
Ku
Ku
Ku
Ku
Ku
kang
Kang
Kang
Kang
Kang
Kang
kah
Kah
Kah

Kah


Pangolat (peniada vokal) dalam surat Batak
Karo Toba Dairi Simalungun/
Timur
Mandailing



Contoh pemakaian:

Saat ini akhir tahun 2009 di alam Kompasiana pernah berdiri kerajaan yang bernama negeri ngocoleria. Negeri ngocoleria ini dipimpin oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana bernama Baginda ANDY SYOEKRY AMAL dengan permaisuri yang bernama Nyi Mas Ratu Kencana Inge. Baginda Raja memiliki dua orang selir yaitu Nyi Mas Rina Sulistiyoningsih dan Nyi Mas Siska Nanda. Kedua selir ini diincar oleh Menteri pertahanan ngocol yang bernama Adipati Aria Ibeng Suribeng. Untuk menjaga stabilitas negara dan stabilitas rumah tangga, sengaja Baginda Raja menikahkan putri satu-satunya yang bernama Nyi Mas kencana Wulung Nopey kepada Menteri Pertahanan Ngocol Adipati Aria Ibeng Suribeng. Semoga prasasti ini menjadi bahan pelajaran pada anak cucu jangan terlalu percaya pada menterinya

Hasil penulisan dalam aksara Batak



Selamat Memehami, dan mempelajari.
Horas jala gabe.