HUTA

HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU

Jumat, 03 September 2010

"KEBERAGAMAN" Hidup Bagaikan Taman Bunga

Kalimat itu kerap diperbincangkan dengan hangat di Beshara, sebuah komunitas diskusi spiritual di Jakarta. Tiap pekan, sekitar 20 penggiat komunitas ini berkumpul untuk berdiskusi. Mereka kerap menggali makna syair-syair Rumi, yang sebagian besar berisi ungkapan cinta kepada Tuhan.
Sabtu (28/8) sore, misalnya, Eva Muchtar (37) dan Rayanti Binawan (48), dua penggiat Beshara, ngobrol santai di sebuah kafe di Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan. Keduanya mencermati makna syair-syair Jalaluddin Rumi, sufi besar Turki yang hidup pada abad ke-13 Masehi. ”Kami mencintai cara Rumi mencintai Tuhan, bukan mengultuskan sosoknya,” kata Eva bersemangat.
Beshara tumbuh di Inggris sejak 28 tahun lalu dan 10 tahun terakhir berkembang di Jakarta. Tak hanya kaum Muslim, banyak orang berlatar belakang agama berbeda ikut serta dalam kegiatan kelompok ini. Mereka berkumpul bergantian lokasi, dengan niatan untuk bersilaturahim.
Setelah mendalami pesan syair cinta Rumi, mereka berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. Salah satu yang ditekankan, bagaimana membangun cinta dan kebersamaan di tengah segala perbedaan agama, etnik, dan latar belakang budaya manusia.
Sebagaimana diakui Rayanti, perbedaan memang kadang membuat manusia tidak nyaman. Ketika menemukan situasi semacam itu, ia mengandaikan dirinya tengah becermin.
”Apa yang membuat saya tak nyaman dengan perbedaan tersebut dan kenapa? Ujung-ujungnya, saya memaklumi, tak semua hal harus sesuai dengan pikiran dan keinginan,” ujarnya.
Kemajemukan
Ada beberapa kelompok lain yang sama-sama bergiat menumbuhkan kesadaran pluralisme alias kemajemukan. Sebut saja, antara lain, kelompok Al Hikam, Yayasan Barzakh, dan Yayasan Paramadina. Mereka rutin berdiskusi, memupuk persaudaraan, memperkuat rasa cinta, dan hidup rukun di tengah keberagaman.
Yayasan Barzakh, contohnya, mengembangkan wacana tasawuf dengan pengajian dan diskusi rutin. Pemandunya, Muhammad Zuhri, seorang guru sufi dari Pati, Jawa Tengah, yang akrab disapa Pak Muh. Kegiatan mereka telah berjalan selama 15 tahun terakhir di Jakarta dengan peserta 60-an orang.
Ketua Umum Yayasan Barzakh Andri Aryadi menjelaskan, anggota Barzakh berusaha menempa diri demi mencapai takwa kepada Allah. Takwa lantas diwujudkan dengan bersikap welas asih kepada sesama. Mereka lebih fokus mengamalkan hakikat agama yang membawa kebaikan untuk manusia ketimbang meributkan perbedaan bentuk ritualnya.
”Ritual sosial tak kalah penting daripada ritual ibadah. Ibadah akan makin sempurna jika disertai melakukan kebajikan bagi sesama,” ujar Andri.
Semangat serupa dilontarkan pengajar tarikat Al Hikam di wilayah Jabodetabek, Mohammad Luqman Hakim. Dengan mengacu pada Kitab Al-Hikam karya Ahmad ibnu Athaillah al-Sakandary asal Mesir, kelompok ini menanamkan kecintaan kepada Tuhan yang diyakini bakal melahirkan cinta dan kasih sayang.
”Jika telah mengenal Allah Sang Pencipta, manusia akan berbelas kasih kepada orang lain,” katanya.
Dengan metode edukasi, Yayasan Paramadina di Jakarta juga getol memperjuangkan prinsip keberagaman. Saat ini kelompok yang didirikan Nurcholish Madjid (almarhum) tahun 1986 ini dipercaya mengisi materi pluralisme dan hak asasi manusia kepada aparat kepolisian. Harapannya, kepolisian lebih tanggap dan bijak dalam menyelesaikan gesekan antarkelompok dengan alasan agama.
”Aparat penegak hukum kini seperti masih takut atau ragu dalam menindak aksi anarki yang bertentangan dengan perlindungan HAM dan pluralisme. Padahal, kebebasan beragama dan berkeyakinan semestinya harus dijaga,” kata Direktur Program Yayasan Paramadina Ihsan Ali-Fauzi.
Taman bunga
Bisa dibilang, kehadiran kelompok pluralis itu bagaikan oase yang menyejukkan di tengah munculnya kekerasan atas nama agama dan sikap intoleran yang kian marak belakangan ini. Mereka memilih memupuk cinta kepada Sang Khalik sambil berbuat baik kepada sesama, tanpa membedakan latar belakang agama dan budaya.
Menurut Direktur Eksekutif International Centre for Islam and Pluralism Syafi’i Anwar, mau tak mau keberagaman memang telah menjadi sejarah bangsa ini. Bahkan, sebagian penyebar Islam di Jawa yang dikenal sebagai Wali Songo juga berdakwah lewat jalan akulturasi dengan budaya setempat. Kesadaran akan kemajemukan di tengah umat Muslim diharapkan dapat membentuk citra Islam sebagai agama yang cinta damai.
Cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat punya metafora menarik soal pluralisme. Ia ibaratkan kehidupan sebagai taman bunga yang sangat indah. Ada mawar, melati, anyelir, sedap malam, dahlia, dan sebagainya. Taman ini kehilangan pesonanya jika hanya punya sekuntum bunga.
Manusia bisa memetik bunga itu sesuai selera dan kehendaknya. Bunga apa pun yang dipetik, asal dipelihara dan diperlakukan dengan baik dan benar, tetap akan mekar dengan indah.
”Begitu pun agama. Ia bukan tujuan akhir kehidupan. Agama justru jadi alat dan basis nilai untuk menata keragaman kehidupan. Tujuan akhirnya adalah kesadaran eksistensi dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar