HUTA

HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU

Sabtu, 13 Juli 2013

Jadilah Kuat

Banyak yang mau sekuat Baja tapi tidak mau ditempa.
Banyak yang mau seharum dupa tapi tidak terbakar.
Banyak yang mau secermelang emas tapi tidak mau dilebur.

jadilah Kuat!!

Jika kamu bersedih, ingatlah saat-saat ketika kamu senang. Supaya ada penghiburan......
Jika kamu senang, ingatlah saat-saat ketika kamu sedih.
supaya tidak lupa diri.....

Kadang TUHAN sembunyikan Matahari
malah petir dan hujan yang keluar

Kenapa??

Ternyata Dia ingin terbitkan Pelangi..

Kadang Do'a kita tidak dikabulkan walaupun itu baik menurut kita.

Kenapa??

Karena TUHAN sudah sediakan yang jauh LEBIH BAIK dari apa yang kita doakan..

Saat kau berdo'a....!

jangan ada kata 'MENYERAH'. karena mungkin hanya tinggal 'Selangkah'..!! Jangan ada kata 'PERCUMA'. Karena do'amu tidak pernah 'Sia-Sia'...!!

Jangan ada kata 'Terlalu lama' karena jawabanNya bisa 'Tiba-Tiba.. "Doa Orang Benar sangat besar 'KUASANYA'
(Yakobus 5:16)

Selasa, 09 Juli 2013

"Ro Tulang"

Ini adalah status FB amangboru Suhunan Situmorang 9 Juli 2013:

Mungkin bagi orang Batak yg masih kesulitan menemukan secuil makna dari aturan dan hubungan kekerabatan masyarakat Batak--dan itu berasal dari kaedah adat--akan menganggap hal-hal sederhana ini tak masuk akal, absurd, unfair, useless. Bagi orang Batak, Tulang (saudara atau kerabat lelakinya ibu), menempati posisi tinggi. Tak boleh sembarangan diperlakukan. Penghormatan maksimal hrs diberikan pd mereka yg berkedudukan Tulang. Tak terbatas pd Tulang kandung, yg semarga dng Tulang pun hrs diperlakukan begitu.

Karenanya, menjadi kebanggaan bagi seseorang bila bisa membuat Tulang-nya senang, dan perlakuan itu relatif, bukan krn pemberian uang, atau jamuan yg dipenuhi aneka makanan enak. Orang bersahaja atau miskin sekali pun bisa melakukan penghormatan pd Tulang-nya--dan si Tulang merasa senang. Sambutan baik dan antusiasme menyambut Tulang bahkan bisa melebihi pemberian makanan yg melimpah atau materi bernilai komersil. Soal cara dan ketulusan memperlakukan Tulang agaknya yg terutama.

Keponakan Tulang yg disebut Bere, lazimnya memiliki kedekatan batin dng Tulang. Lebih intim, lebih kental hubungan emosional. Tulang adalah sandaran diri, selain orangtua. Tulang adalah pula tempat mengadu, curhat, bahkan minta bantuan. Bila seseorang bermasalah atau dimarahi orangtuanya, dia bisa mengadu pd Tulang-nya--dan orangtuanya, setelah tahu, biasanya akan gentar, walau akan menyampaikan semacam pleidoi, pembelaan diri, atau justifikasi atas tindakan memarahi si anak.

Anak-anak Tulang (pria) pun sama sederajat dng Tulang, tak boleh diperlakukan main-main apalagi dilecehkan. Pantang. Namun, dng boru-nya Tulang, hubungan itu lebih cair, bebas bercanda atau menggoda. Canda atau guyon dng boru-nya Tulang malah dianggap lazim bila "menjurus." Boru-nya Tulang yg juga disebut Pariban itu memang berdasarkan sistem adat, "milik" lelaki yg menjadi Bere bapaknya, kendati tak absolut. Idealnya, perkawinan dlm masyarakat Batak, menikah dng boru-nya Tulang (bagi pria) atau dng anaknya Namboru (bagi wanita). Tak usah dulu persoalkan bhw itu tak baik dari sisi medis atau genetika, yg jelas itulah model perkawinan yg dianggap ideal bagi masyarakat adat Batak. Perkawinan eksogami.

Faktanya, tak banyak yg bisa melakukan pernikahan dng boru-nya Tulang atau dng anaknya Namboru. Selain keterbatasan "stok," ketidakcocokan, minim ketertarikan, atau krn lebih sreg dng wanita atau pria lain--yg bukan boruni Tulang atau anakni Namboru. Dan, adat Batak yg kian sering dikecam krn dianggap memberatkan, rumit, dan useless itu, cukup moderat. Meski akhirnya menikah dng perempuan yg bukan boru-nya Tulang, orangtua perempuan tsb akan otomatis diposisikan: Tulang. Perlakuan pd Tulang (the existing) dng mertua yg berasal dari marga lain, bukan marga Tulang, akan serta-merta mengikut. Pihak pria (dongan sabutuha) akan memanggil dan memperlakukan pihak perempuan: hula-hula.

Karena itulah tradisi permisi dan minta restu dari Tulang dilakukan orangtua yg hendak menikahkan anak lelakinya, bila mau menikahi gadis dari marga lain. Dahulu, tradisi tsb dilakukan pd semua anak lelaki yg hendak menikah dan tdk pada boruni Tulang, sekarang, cukup diwakili anak pertama krn alasan "efisiensi," repot, atau krn domisili Tulang yg jauh. Padahal, bila dipahami dng benar, setiap anak lelaki memiliki "baringin" atau eksistensi, meski tetap terikat dng orangtua dan klan/marga dlm hajatan adat dan relasi sosial dng marga lain.

Tulang, bagi yg masih hormat pd kaedah-kaedah adat dan menganggap itu bernilai penting, diibaratkan pemberi sebelah langit (sabola langit). Alamak! Sebelah langit? Ya. Doa yg dipanjatkan Tulang (itu sebenarnya yg dimaksudkan dng "pasupasuni Tulang," yg kemudian disalahartikan para penentang adat, yg begitu sempit memaknai keluhuran hubungan manusia yg saling mengasihi) kpd Tuhan yg dipercaya, malah diyakini lbh dahsyat dibanding doa yg diluncurkan orangtua.

Keyakinan tsb tak bisa dipaksakan, tentu saja. Setiap orang berhak memaknai apa saja, termasuk perlu tidaknya mengikuti tata-aturan adat-istiadat. Yg tak patut adalah bila krn keyakinannya yg antiadat atau krn gagal memetik manfaat yg abstrak dari nilai-nilai adat, lantas menghujati adat dan orang-orang yg masih patuh. Sikap macam itu justru cerminan kepicikan, bahkan antidemokrasi, dan menyangkal budi pekerti (utk tak mengatakan keluhuran) yg sampai kapan pun akan dibutuhkan manusia beradab.

Tulang, bagi kami anak-anak orangtuaku, memang telah berfungsi sbg "pemberi sebelah langit." Tanpa peran atau bantuan Tulang, dahulu, mungkin anak-anak orangtuaku tak akan bisa mencapai yg lebih berarti. Tulang kamilah yg menyekolahkan anak sulung ayah-ibuku, disekolahkan di akademi militer di Magelang, lalu selanjutnya jadi pembuka jalan bagi adik-adiknya.

Aku punya lima Tulang, namun hanya sempat mengenal dan dekat dng tiga Tulang. Dua lagi meninggal saat aku masih kanak, dan satu amat berperan penting memajukan anak-anak orangtuaku, seorang militer yg meninggal krn sakit di usia 47 thn yg kini terbaring di TMP Kalibata, Jakarta. Semasa ibuku masih ada dan bila datang ke Jakarta, ia tak lupa mengajak salah satu kami menziarahi makam tsb. Ketika aku hendak menikah, ia pun membawaku ke rumah satu Tulang yg saat itu bermukim di Jakarta tapi kemudian kembali ke kota asalnya, Pardagangan, Sumut.

Dulu ibu begitu antusias manakala Tulang datang, "Ro Tulang...," ucapnya dng wajah berbinar.

Tulang kami yg lima itu memanb pemberi "sabola langit" pd kami, dan itu sering kujadikan testimoni, termasuk di kalangan Situmorang.

(Selain Tulang Nainggolan, orangtua kami pun mengigatkan kami semua anaknya agar memperlalukan Sinaga, Tulang-nya bapak, dan Lumbantoruan yg menurunkan trah kami dan dahulu kala dibuat perjanjian atau padan bhw kami akan tetap "ber-tulang-kan" semua Lumbantoruan, agar menaruh hormat yg sama).

Tulang adalah pula "pangunsandean" (sandaran), "hau nabolon" (pohon besar nan rindang), yg semestinya memberi kebanggaan pd diri Tulang. Kadang aku merasa bersalah krn merasa tak cukup layak memperlakukan Tulang, dan mungkin pula dlm posisiku sbg Tulang belum cukup tepat bagi Bere-bere, belum melakukan yg seharusnya dilakukan atau perlihatkan Tulang.

Horasma di hita saluhut.