20 thn lalu, persisnya 28 Des 1991, aku dan Hastuti Nainggolan, menikah di Sibolga, kota kecil di pesisir pantai barat Sumut. Dunia lajang, yg menghanyutkan hingga terbawa ke usia 30 th, berakhir sudah. Inisiasi melalui seremoni menaburkan berbagai rasa. Bahagia yg abstrak itu, menyata. Ibunda dan ayah yg kian sepuh, mengaku lega. Dari 11 putra-putrinya, anak kesembilan itu, akhirnya menggenapi kemauan mrk.
Sejak itu, aku bukan lagi manusia bebas yg semaunya berkelana. Kehidupan semi-gipsy, berpindah sesuka diri, mengembara ke mana jiwa menghendaki, harus tunduk pd norma-norma lembaga perkawinan. Diri, terikat pula pd aturan dan tata krama adat-istiadat, menerima dan menjalani hak dan kewajiban. Tak lagi satu pribadi dng satu status. Suka atau tak, tak ada dalih utk menghindari. Putusan sdh diambil, komitmen hrs ditepati, tanggung jawab menjadi hal yg absolut.
20 thn, tak hanya diisi kesenangan. Konflik krn kesalahpahaman, dinamika yg meletup selama proses penyesuaian, bahkan hal sepele yg tak terduga, acap pula menyadarkan: perkawinan, rumahtangga, ternyata memang tak sebatas penyatuan dua insan yg mengaku saling menyayangi, tak hanya perwujudan kemauan reproduksi utk melahirkan cabang diri, pula pemenuhan kebutuhan biologis.
Perkawinan bukan sbh kata, kata seorang sineas Amerika yg kulupa namanya, namun kalimat panjang. Memang demikianlah ternyata, setidaknya berdasarkan pengalaman. Dua menjadi satu, pun lebih berupa idealisasi. Menyatukan dua pribadi yg berbeda dlm beberapa hal, terutama karakter, minat, orientasi, visi, dan latar belakang sosial-kultural, bukanlah perkara gampang. Ilusi mengharapkan itu terjadi dlm waktu cepat. Bagaimana mungkin mengintegrasikan seluruhnya dua kepribadian yg berbeda dari segi gender dan asal? Bukankah tiap orang menyimpan memori dan rahasia masing-masing hingga menjadi misteri yg kadang terungkap tak sengaja seiring perjalanan waktu?
Tapi, uniknya manusia, memang di situ salah satu. Proses adaptasi dan saling mengenal itu sering memercikkan gairah, juga perasaan yg tak terkatakan apa persisnya. Kata, kadang, gagal menjelaskan yg dirasakan. Penyatuan dua jiwa itu, menjadi pengalaman yg menarik, menambah semangat, walau tipis jaraknya dng pertentangan.
Menikah dng Hastuti yg kemudian menghadiahiku tiga putra-putri, telah memperbanyak lembaran penting sekaligus menarik dlm buku diri; tetapi tdk akan pernah berani kukatakan: rumahtangga itu begitu mulus dilakoni. Perlahan-lahan tercapai kesepakatan, lambat laun terbangun pemahaman. Ia, pasti memiliki sejumlah penilaian ttg diriku, suami dan ayah anak-anaknya, tentu pula terdapat berbagai ketidakpuasan. Aku harus berlapang dada menyadari kelemahan dan kekurangan, kuharap pula dia melakukan hal yg sama. Negosiasi utk merekat hubungan dng pasangan, bukanlah suatu kekalahan. Kompromi utk menemukan kesesuaian pikiran/pandangan, tak pernah selesai. Kesediaan utk membebaskan pasangan mengaktualisasikan sikap dan kemauan diri masing-masing, termasuk hal penting yg kemudian dicapai.
Berdosalah aku bila tak mengaku berbahagia dng rumahtanggaku, namun, tak sungkan pula kuakui: itu bukan hal yg otomatis kuraih. Ada proses yg panjang, kadang melelahkan, walau sekejap berubah menjadi 'adegan' yg menyenangkan, menimbulkan tawa dan suka cita yg tiada tepermanai.
Perkawinan, ternyata memang kalimat yg panjang. Kata-kata pengkhotbah adalah semacam pengingat. Yg terpenting, berdasarkan "studi kasus" rumahtanggaku, kesediaan utk memahami pasangan, termasuk latar belakang, dan sebisanya menghindari mis-persepsi, menjadi penentu. Kesetiaan, komitmen, dijaga tiga hal di atas.
Terlepas dari beberapa kekurangan, bagiku, Hastuti adalah perempuan yg mengagumkan. Disiplin, konsisten, teguh pd pendirian, luarbiasa sayangnya pd anak, dan memiliki kepekaan yg cukup dijadikan modal mengarungi kehidupan. Ia punya kesamaan dng aku, dan itu kusukai: tak memandang orang dari status sosial, tak peduli pejabat atau gelandangan, hingga tak bisa didikte oleh siapapun. Di tengah sikapnya yg terbilang lembut, ia berpendirian bak batu karang di lautan: tak gentar menghadapi siapapun kalau menurut pikirannya tak benar dan karenanya hrs diingatkan.
Ia tak memanjakan aku, tapi, kurasakan betapa sayangnya dia pada bapak anak-anaknya. Kami sering beda pendapat/pandangan, namun dia akan menerima bila "koreksianku" mampu meyakinkan pikiran dan nuraninya. Yg lebih penting lagi, kami sama-sama sepakat menolak: gosip, tuduhan tak berdasar, fitnah, dan membangun harga diri melalui perilaku yg beretika. Bukan dari harta atau kuasa.
20 thn perkawinan kami, entah apa yg akan kutuliskan kemudian hari. Kiranya Tuhan maha pengasih memberi kesempatan bagi kami utk memperbaiki diri, menjadi pasangan yg tetap saling menghargai, menjadi orangtua yg mengesankan bagi anak-anak, dan yg tak kalah penting: bisa memberi makna bagi yg lain. Semoga.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar