HUTA

HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU

Rabu, 28 Desember 2011

Cerita Perkawinan Sahabatku Suhunan Situmorang....

20 thn lalu, persisnya 28 Des 1991, aku dan Hastuti Nainggolan, menikah di Sibolga, kota kecil di pesisir pantai barat Sumut. Dunia lajang, yg menghanyutkan hingga terbawa ke usia 30 th, berakhir sudah. Inisiasi melalui seremoni menaburkan berbagai rasa. Bahagia yg abstrak itu, menyata. Ibunda dan ayah yg kian sepuh, mengaku lega. Dari 11 putra-putrinya, anak kesembilan itu, akhirnya menggenapi kemauan mrk.

Sejak itu, aku bukan lagi manusia bebas yg semaunya berkelana. Kehidupan semi-gipsy, berpindah sesuka diri, mengembara ke mana jiwa menghendaki, harus tunduk pd norma-norma lembaga perkawinan. Diri, terikat pula pd aturan dan tata krama adat-istiadat, menerima dan menjalani hak dan kewajiban. Tak lagi satu pribadi dng satu status. Suka atau tak, tak ada dalih utk menghindari. Putusan sdh diambil, komitmen hrs ditepati, tanggung jawab menjadi hal yg absolut.

20 thn, tak hanya diisi kesenangan. Konflik krn kesalahpahaman, dinamika yg meletup selama proses penyesuaian, bahkan hal sepele yg tak terduga, acap pula menyadarkan: perkawinan, rumahtangga, ternyata memang tak sebatas penyatuan dua insan yg mengaku saling menyayangi, tak hanya perwujudan kemauan reproduksi utk melahirkan cabang diri, pula pemenuhan kebutuhan biologis.

Perkawinan bukan sbh kata, kata seorang sineas Amerika yg kulupa namanya, namun kalimat panjang. Memang demikianlah ternyata, setidaknya berdasarkan pengalaman. Dua menjadi satu, pun lebih berupa idealisasi. Menyatukan dua pribadi yg berbeda dlm beberapa hal, terutama karakter, minat, orientasi, visi, dan latar belakang sosial-kultural, bukanlah perkara gampang. Ilusi mengharapkan itu terjadi dlm waktu cepat. Bagaimana mungkin mengintegrasikan seluruhnya dua kepribadian yg berbeda dari segi gender dan asal? Bukankah tiap orang menyimpan memori dan rahasia masing-masing hingga menjadi misteri yg kadang terungkap tak sengaja seiring perjalanan waktu?

Tapi, uniknya manusia, memang di situ salah satu. Proses adaptasi dan saling mengenal itu sering memercikkan gairah, juga perasaan yg tak terkatakan apa persisnya. Kata, kadang, gagal menjelaskan yg dirasakan. Penyatuan dua jiwa itu, menjadi pengalaman yg menarik, menambah semangat, walau tipis jaraknya dng pertentangan.

Menikah dng Hastuti yg kemudian menghadiahiku tiga putra-putri, telah memperbanyak lembaran penting sekaligus menarik dlm buku diri; tetapi tdk akan pernah berani kukatakan: rumahtangga itu begitu mulus dilakoni. Perlahan-lahan tercapai kesepakatan, lambat laun terbangun pemahaman. Ia, pasti memiliki sejumlah penilaian ttg diriku, suami dan ayah anak-anaknya, tentu pula terdapat berbagai ketidakpuasan. Aku harus berlapang dada menyadari kelemahan dan kekurangan, kuharap pula dia melakukan hal yg sama. Negosiasi utk merekat hubungan dng pasangan, bukanlah suatu kekalahan. Kompromi utk menemukan kesesuaian pikiran/pandangan, tak pernah selesai. Kesediaan utk membebaskan pasangan mengaktualisasikan sikap dan kemauan diri masing-masing, termasuk hal penting yg kemudian dicapai.

Berdosalah aku bila tak mengaku berbahagia dng rumahtanggaku, namun, tak sungkan pula kuakui: itu bukan hal yg otomatis kuraih. Ada proses yg panjang, kadang melelahkan, walau sekejap berubah menjadi 'adegan' yg menyenangkan, menimbulkan tawa dan suka cita yg tiada tepermanai.

Perkawinan, ternyata memang kalimat yg panjang. Kata-kata pengkhotbah adalah semacam pengingat. Yg terpenting, berdasarkan "studi kasus" rumahtanggaku, kesediaan utk memahami pasangan, termasuk latar belakang, dan sebisanya menghindari mis-persepsi, menjadi penentu. Kesetiaan, komitmen, dijaga tiga hal di atas.

Terlepas dari beberapa kekurangan, bagiku, Hastuti adalah perempuan yg mengagumkan. Disiplin, konsisten, teguh pd pendirian, luarbiasa sayangnya pd anak, dan memiliki kepekaan yg cukup dijadikan modal mengarungi kehidupan. Ia punya kesamaan dng aku, dan itu kusukai: tak memandang orang dari status sosial, tak peduli pejabat atau gelandangan, hingga tak bisa didikte oleh siapapun. Di tengah sikapnya yg terbilang lembut, ia berpendirian bak batu karang di lautan: tak gentar menghadapi siapapun kalau menurut pikirannya tak benar dan karenanya hrs diingatkan.

Ia tak memanjakan aku, tapi, kurasakan betapa sayangnya dia pada bapak anak-anaknya. Kami sering beda pendapat/pandangan, namun dia akan menerima bila "koreksianku" mampu meyakinkan pikiran dan nuraninya. Yg lebih penting lagi, kami sama-sama sepakat menolak: gosip, tuduhan tak berdasar, fitnah, dan membangun harga diri melalui perilaku yg beretika. Bukan dari harta atau kuasa.

20 thn perkawinan kami, entah apa yg akan kutuliskan kemudian hari. Kiranya Tuhan maha pengasih memberi kesempatan bagi kami utk memperbaiki diri, menjadi pasangan yg tetap saling menghargai, menjadi orangtua yg mengesankan bagi anak-anak, dan yg tak kalah penting: bisa memberi makna bagi yg lain. Semoga.***

Jumat, 23 Desember 2011

Bagian Tubuh Wanita Pemicu Gairah Seks Pria

1. Telapak Kaki
Menurut ilmu refleksiologi kuno, tumit pada kaki dipercaya menjadi poin tekanan yang bisa memicu rangsangan seksual. Ditambah lagi menurut pakar seks di New York City, Ian Kerner, seperti dilansir Womansday, pria menyukai pijatan pada kaki. Jadi saat dia pulang kantor, bukakan kaus kakinya, ambil losion dan mulailah pijatan sensual di daerah tersebut.

2. Telinga
Telinga merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sensitif tapi juga area sensual yang sering terabaikan. Terapis seks Raman Rahilla, seperti dilansir Times of India menjelaskan, "Zona paling erotis pria ada di bagian dalam telinga kanan. Gunakan bibir, lidah dan jari-jari Anda untuk menyentuh telinga pasangan. Anda bisa menggigit lembut cuping telinganya, dan bergerak perlahan menuju belakang leher. Gerakan ini pasti akan membuatnya bergairah."

3. Leher
"Area di antara leher dan pundak merupakan zona sensual yang efeknya sangat dahsyat. Sebagian besar pria dan wanita mudah terangsang saat mendapat stimulasi mulai dari tengkuk, leher hingga pundak," ujar Konselor Percintaan Vrinda Vohra.

4. Pusar
Pusar adalah tempat yang erotis, begitu juga dengan area antara pusar dan perut bagian bawah. Bagian ini sangat sensitif dengan sentuhan, belaian dan ciuman. Stimulasi tersebut akan menciptakan sensasi menggelitik mulai dari bagian pusar, menyebar ke daerah di bawahnya.

5. Paha
Paha bagian dalam sangat sensitif terhadap sentuhan dan stimulasi lidah. Ciuman lembut dan gerakan jari-jari ringan sepanjang paha menuju area genital akan membuat hasrat bercinta pasangan meningkat.

6. Kepala & Wajah
Stimulasi pada area kepala dan wajah akan memberi rangsangan lebih tinggi pada otak besar dibandingkan kesenangan secara fisik. Jadi, biarkan si dia rileks sebelum mulai penetrasi seks. Area di atas dan tepat di kelopak mata merupakan pusat konsentrasi syaraf-syaraf tubuh. Pijatan lembut di sepanjang lengkungan alis ke bagian tengah, bisa dilakukan untuk memulai foreplay.

7. Belakang Lutut
Bagian ini akan menimbulkan sensasi menggelitik ketika disentuh, sekaligus titik yang membangkitkan rangsangan seks. Dr. Kerner juga menyebutkan, kulit di belakang lutut lebih tipis dan lembut, jadi lebih sensitif pada sentuhan.

8. Tengkuk
Sentuhan lembut dan ringan pada area tengkuknya, bisa meningkatkan gairah seksual pria. Sebagai kombinasi gerakan, usapkan tangan Anda pada lehernya, gigit kecil telinga dan perlahan sentuh bagian tengkuknya.

9. Dahi
Mungkin Anda tidak menganggap dahi adalah area yang seksi, tapi kepala dan kulit di sekitarnya dipenuhi saraf-saraf yang sensitif. Pijatan ringan di dahi bisa meningkatkan hormon yang memicu rasa senang seperti dopamin dan serotonin.

Read More: http://www.unikaja.com/2011/12/9-bagian-tubuh-wanita-pemicu-gairah.html#ixzz1hHhBKdh1