HUTA

HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU

Jumat, 08 Oktober 2010

SK Menhut No 44 Tahun 2005 Dikecam Masyarakat Humbahas

Masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumut mengecam keras Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No 44 Tahun 2005 yang membuat sebagian besar wilayah daerah itu masuk kawasan hutan register.

Masyarakat Kecamatan Pollung Kabupaten, Humbahas, misalnya, kalau hendak mengurus sertifikat tanah miliknya ke Badan Pertanahaan Negara (BPN) ditolak, akibat wilayah tersebut masuk kawasan hutan register sesuai dengan SK 44 Tahun 2005.

“Padahal masyarakat sudah bermukim di daerah itu sejak zaman penjajahan sampai saat ini. Hutan Register itu, dulu dibuat Belanda hanya untuk mendata satu kawasan masih hutan,” ujar sejumlah masyarakat di Pollung.

Hal sama juga diakui masyarakat Kecamatan Parlilitan, Humbahas. Daerah itu hampir 90 persen masuk kawasan register, sehingga masyarakat tidak dapat mengurus sertifikat tanahnya. Padahal, kecamatan Parlilitan adalah salah satu tempat persembunyian Raja Sisingamangaraha XII ketika melawan penjajahan Belanda. Artinya, perkampungan di Kecamatan Parlilitan sudah ada sebelum Belanda masuk ke daerah tersebut.

Dengan dasar kawasan register pencatatan Belanda itulah Menhut mengeluarkan SK 44 Tahun 2005 dengan memasukkan areal perkampungan dan perlandangan penduduk yang sudah diusahai ratusan tahun masuk kawasan hutan produksi.

Ketua Umum Non Government Organization Citra Bangsa (NGO CB), TBH Simamora, Senin 30 Agustus 2010 menegaskan cara Menhut mengeluarkan SK No. 44 Tahun 2005, tidak berdasarkan fakta lapangan, namun hanya usulan di atas meja.

Dia menambahkan, sebelum kehadiran SK 44 tersebut, Humbahas merupakan pecahan dari Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dengan luas areal hutanan hanya 95.512,84 ha, hutan register seluas 76.000 ha, sedangkan hutan inlivijing seluas 19.512,85 ha.

Begitu keluar SK 44 tahun 2005 tersebut, luas hutan berubah menjadi 149.171,29 ha atau 63,87 persen dari luas areal Kabupaten Humbang Hasundutan. “Masyarakat Humbahas ini sudah bisa dipenjarakan karena tinggal di kawasan hutan sebagaimana dalam SK 44/2005,” tuturnya.

Harusnya, kata dia, Menteri Kehutanan sebelum mengeluarkan ketetapan meninjau ke lapangan apakah areal yang dimaksud masih hutan, perkampungan penduduk, perladangan, atau malah sudah menjadi daerah perkantoran pemerintah.

“Diteliti dulu dong tapal batas hutannya karena kita ini adalah manusia. Kalau seperti ini, berarti kita ini dianggap binatang, karena hidup di hutan lindung sesuai SK 44/2005 tersebut,” tegasnya.

Ketua LSM Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara Republik Indoensia, D Sihite menegaskan agar Presiden RI dan DPR RI segera merevisi ulang SK Menteri Kehutanan No 44 tahun 2005. Menyangkut SK tersebut, lanjutnya, dampaknya sangat luas dengan merugikan masyarakat dan pemerintah daerah.

Kecemburuan muncul, kata dia, karena PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang jelas-jelas melakukan penebangan kawasan hutan dengan alasan masuk izin hak pengusahaan hutan (HPH) indusri, tidak pernah mendapatkan revisi walaupun sudah diprotes masyarakat luas.

Desa Hutagalung yang berlokasi di Sitonggi-tonggi, kata dia, merupaka hutan lindung, namun TPL dengan leluasa menebang kawasan itu dan menanam ekaliptus. Padahal, kata dia, dampak penebangan itu akan mengancam keselamatan masyarakat Kabupaten Samosir yang bertetangga dengan Kabupaten Humbahas ini berupa bajir kiriman sebagaimana terjadi belum lama ini.

Demikian juga penebangan dan penanam ekaliptus di sektor Tele, kata dia, akan membuat sumber air untuk Kecamatan Parlilitan, Tarabintang, dan Pakkat bakal kering.

Untuk itu, tuturnya, masyarakat mengharapkan kepada pemerintah supaya merevisi SK 44/2005 tersebut berdasarkan fakta lapangan yang sebenarnya.

Demikian juga kawasan perladangan penduduk yang masuk dalam kawasan HPHTI TPL agar direvisi kembali, sehingga tidak memunculkan konflik sosial dan proses pemiskinan masyarakat Humbang Hasundutan.

Maka dari itu, mari kita dukung Revisi SK 44 Menhut Tahun 2005 secepatnya.

Jumat, 24 September 2010

Kacamata Bikin Wajah Tampak 3 Tahun Lebih Tua

VIVAnews - Anda sering dianggap berumur lebih tua dari sebenarnya? Hal itu mungkin disebabkan kacamata yang Anda pakai. Menurut survei yang dilakukan London Vision Clinic, kacamata membuat seseorang terlihat lebih tua.

Survei yang dilakukan pada 4.000 orang menemukan, orang yang memakai kacamata terlihat 3,3 tahun lebih tua. Lalu, pada orang yang berusia 45 tahun dan menggunakan kacamata bahkan dianggap lima tahun lebih tua. Responden yang disurvei juga mengungkapkan mereka yang mengenakan kacamata cenderung kutu buku dan jago dalam hal komputer.

Orang berkacamata juga terlihat kurang percaya diri dan lebih mungkin terlihat lemah secara fisik. Penelitian ini meminta responden untuk menganalisis foto-foto 10 orang yang berbeda (terlihat dengan dan tanpa kacamata) dan menebak umur mereka.

"Penelitian ini menarik karena melihat penilaian cepat yang dibuat seseorang tentang orang lain ketika pertama kali melihat," kata psikolog Dr. Glenn Wilson, seperti dikutip dari Stylelist.com

Dr Wilson menambahkan, "Studi ini juga dilakukan pada anak-anak. Seperempat responden mengakui, anak-anak yang memakai kacamata seringkali diolok-olok teman sebayanya."

Agar tidak terlihat tua sebenarnya Anda harus jeli dalam mencari kacamata yang sesuai dengan bentuk wajah dan mata. Pastikan kacamata tidak memperjelas kekurangan wajah dan sebaliknya malah menonjolkan kecantikan wajah Anda.

Rabu, 22 September 2010

Indonesia antara milikmu dan milikku, Mari bersatu Menjadi Indonesia Raya

DEVIDE ET IMPERA INDONESIA !!!
AGAMA LAGI DAN LAGI
**DICAMKAN
Sadarkah Anda bahwa pelecehan kedaulatan Indonesia oleh Malaysia,
Masalah pertikaian antar AGAMA di Indonesia, dll.. ADALAH strategi lama 'devide et impera' yg tak kita sadari.
Let's Flashback!
DUNIA TAU, Indonesia adalah RAKSASA yg tertidur. IA sempat berdiri tegak dgn
kerajaan maritimnya dimasa lampau. Namun sejak kedatangan Belanda, dunia
menidurkan SANG RAKSASA dengan devide et impera atau ADU DOMBA.
Saat itulah Indonesia di adu domba dgn beragam suku yang mulai terpecah belah
agar mudah terkalahkan. Namun ternyata perpecahan itu butuh waktu 350 thn bagi Belanda untuk menguasai. Mengapa Indonesia MERDEKA? Karena tak terkalahkan jika KITA BERSATU
Dimasa modern, devide et impera diterapkan lewat adu domba politik, dunia gempar dgn kecerdasan Habibie, beliau memimpin hanya selama 512 hari namun mengeluarkan Indonesia dari jurang krisis. Beliau turun jabatan dan kecerdasanya dimanfaatkan negara lain.
Mantan menteri keuangan Sri Mulyani dengan prestasinya menghindarkan Indonesia dari krisis finansial 2008 bahkan meraih hasil positif. DUNIA sekali lagi GENTAR.
Adu domba politik yg terjadi mengharapkan Sri Mulyani mundur dan dipilihlah bank dunia. Apakah kamu tidak tersadar? Mengapa Indonesia rela mengusir pejabat terbaiknya?
Lalu mengapa dikatakan devide et impera? Karena sekarang adalah masa2 yg hebat bagi Indonesia. Terhindar dari krisis finansial 2008 membuat DUNIA TERBELALAK. Apalagi skrg pemerintahan
menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,5%.
Dunia ingin sang raksasa cepat ditidurkan kembali, dengan ADU DOMBAnya. Lantas ?
Apakah perang? Kerusuhan? TIDAK, negeri ini telah berada di JALUR yg TEPAT, perang dan kerusuhan hanyalah menguras tenaga, perhatian dan keuangan negara.
Cukup tindakan tegas ! Maka dunia terdiam karena adu domba TELAH GAGAL.
Indonesia adalah bangsa yg CERDAS. Maju terus Indonesia.
Sadarlah bahwa ini SEMUA HANYA SANDIWARA BELAKA, JANGAN TERPROVOKASI.
Sebarkan, Satu Indonesia !

Selasa, 14 September 2010

Stop Global Warming !!!!!!

Ayo kita cegah Global Warming !!!!!

Semua seharusnya udah tau mengenai issue yang satu ini deh. Issue mengenai Global Warming bener-bener lagi mendunia. Dimana-mana menyerukan supaya kita turut serta mencegah global warming. Di semua benua sedang giat-giatnya mengadakan berbagai event untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan menggugah orang-orang untuk turut andil dalam aksi global warming ini. Semua beritanya jg ada dimana-mana, di koran, di TV, bahkan sampai ke konser-konser musik menggusung tema yang sama. Nah, yang jadi bahan pertanyaan di kepala saya sekarang adalah apakah kita hanya sekedar tau dan membaca atau menonton berita ttg Global Warming ini tanpa bertindak apa-apa, ataukah kita bener-bener prihatin sama keadaan bumi saat ini dan bener-bener bertekad untuk membantu mencegah terjadinya global warming tersebut ??

Buat yang belum tau mengenai apakah global warming itu, saya coba untuk menceritakan sedikit apa yang saya tau dan yang saya dapetin dari sumber-sumber yang sebenernya ada banyak di internet. Global Warming adalah kondisi dimana perubahan iklim dunia sekarang sudah benar-benar ekstrem. Cuaca dari panas menyengat tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat, badai muncul dimana-mana, dan lain sebagainya, yang intinya pasti tidak menyenangkan dan membuat kekuatiran dimana-mana. Perubahan kondisi alam seperti itu menyebabkan banyak sekali dampak. Paling ekstrem menurut saya adalah naiknya kuantitas air dikarenakan es di kutub yang mulai mencair sedikit demi sedikit. Selain itu juga pastinya menyebabkan berbagai gangguan kesehatan dan beberapa jenis species hewan di bumi terancam kelangsungan hidupnya (contoh : si beruang kutub yang cute and keren itu kehidupannya sedang terancam banget sekarang). Serem ya ...

Apa sih yang menyebabkan kondisi bumi jadi parah seperti ini ? Sayangnya, hal ini disebabkan oleh manusia sendiri loh, artinya dalam skala kecil ya kita-kita ini biang keladinya. Semakin tinggi teknologi dan kemajuan jaman, ternyata menuntut banyak pengorbanan besar dari alam. Pohon-pohon di hutan ditebangi sampai hutan menjadi gundul, atau hutan-hutan dibakar sehingga hasil pembakarannya menimbulkan gas CO2 yang jumlahnya banyak. Selain itu, kemajuan teknologi dan industri juga menyebabkan jumlah asap pabrik dan asap kendaraan bermotor (baca = CO2) semakin memenuhi atmosfer bumi. Semakin banyaknya jumlah gas CO2 yang berkumpul di atmosfer itu menyebabkan panas matahari yang masuk ke bumi tidak semuanya bisa dipantulkan kembali ke atas, sehingga terjadi efek rumah kaca yang otomatis menyebabkan suhu bumi menjadi lebih panas dan semakin panas dari detik ke detik. Serem gak sih ? Kebayang gak sih kalau bumi ini udah semakin panas ? Jakarta aja sekarang panasnya udah amit-amit, gimana Jakarta di tahun-tahun mendatang ?? Serem !!!

Nah, kalau sudah mengerti apa itu Global Warming dan penyebabnya dan dampaknya buat kita, pertanyaan selanjutnya (seharusnya) adalah bagaimana dan apa yang harus kita lakukan untuk mencegah Global Warming itu ? Pastinya ada hal-hal kecil dan mudah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dong. Beberapa hal yang dapat kita lakukan tersebut saya ambil dari beberapa website, antara lain :

1. Mengganti lampu neon biasa di rumah dengan lampu fluorescent yang hemat energi.
2. Cek jumlah atau tekanan angin ban kendaraan setiap bulannya biar bensin gak boros gara-gara ban kempes.
3. Cek saringan atau filter udara kendaraan setiap bulannya.
4. Kalau punya mesin cuci piring, hanya menggunakannya kalau cucian piringnya bener-bener udah penuh.
5. Menggunakan kertas-kertas atau material lainnya yang berasal dari bahan recycle.
6. Kalau pakai water heater, diusahakan pemanasnya tidak melebihi 120 derajat Fahrenheit (kalau mau tau celciusnya, itung sendiri ya.. atau barangkali ada yg mau bantu ??)
7. Rajin-rajin bersihin filter AC di rumah.
8. Kalau mandi shower, jangan lama-lama terutama buat yang pake water heater, biar menghemat energi dan biaya dari water heaternya itu loh.
9. Kalau mau belanja sesuatu, belinya di daerah sekitar rumah aja biar menghemat energi dari jarak antara rumah dan toko. Misalnya, kalau ada pasar traditional deket rumah yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, gak usah beli ke carefur yang lebih jauh yang musti naek mobil.
10. Beli barang yang gak menggunakan banyak packaging. Makin sedikit packagingnya, artinya makin sedikit juga sampah yang harus dibakar.
11. Kalau punya uang, beli mobil hybrid --> Indonesia belon ada sih, tapi kalau udah masuk mungkin bisa dijadiin pilihan utama buat yang mau beli mobil.
12. Beli mobil yang irit bahan bakar. Kalau bisa yang 1000 cc kenapa musti pake yang 2500 cc yang artinya makin gede cc nya, makin boros bensin.
13. Kalau mobilnya kosong, napa nggak bareng-bareng sama temen-temen laen yang searah dan setujuan ?
14. Yang punya sepeda bisa ikutan komunitas "Bike to Work", ato yang laen bisa naek kendaraan umum daripada naek mobil pribadi.
15. Jangan kelamaan membiarkan kendaraan dalam kondisi idle. Kalau kena macet parah ato pas di lampu merah, mending mesinnya dimatiin dulu daripada nyala n knalpot ngepul terus.
16. Menanam tanaman dan pohon di rumah. Selain pemandangan jadi asri, udara jg lebih sejuk, dan yang pasti tanaman dan pepohonan akan membantu penyerapan CO2.
17. Ganti barang-barang yang boros energi. Misalnya, kompor yang gasnya boros, mesin cuci yang boros listrik, dll.
18. Daripada pake pengering pakaian, lebih baik pake tali jemuran aja kalau abis cuci baju.
19. Kalau punya alat pemotong rumput, pilih yang manual daripada yang pake listrik. Selain hemat biaya listrik, otot tangan jg jadi tambah kekar tuh.
20. Selalu cabut colokan listrik kalau gak terpakai. Contohnya, kabel TV dicabut kalau udah gak nonton TV lagi, jangan dibiarin aja tetep nempel di colokannya.
21. Beli makanan organik, karena makanan yang mengandung kimia berasal dari pabrik, si penghasil limbah.
22. Kalau pergi ke supermarket, bawa tas kain aja daripada nenteng plastik blanjaannya. Plastik itu bahan yang paling susah direcyle loh.
23. Matiin komputer kalau gak dipake. Lebih hemat energi listrik kalau komputer kita dalam "sleep mode" daripada nyalain screensaver.
24. Jangan sering-sering pergi naek pesawat terbang, karena pesawat terbang paling menghabiskan banyak bahan bakar loh.


Ternyata ada banyak sekali cara buat kita turut berpartisipasi dalam mencegah Global Warming ini. Tingal pilih-pilih mana yang bisa kita lakukan dan lakukanlah dengan konsisten. Saya yakin, kalau semua manusia di bumi membantu dengan hal-hal kecil, bumi masih bisa diselamatkan kok.
Dunia adalah milik kita yang diwariskan oleh leluhur bagi kita, dan akan kita wariskan kembali kepada anak cucu dan generasi berikutnya. Mari menjaganya serawat mungkin. Horas...

Jumat, 03 September 2010

SEDIHMA Br. SILALAHI, PENARI TUJUH CAWAN dari DANAU TOBA

Tarian tujuh cawan merupakan salah satu tarian paling popular dari tanah Batak selain tortor. Tarian ini selau menjadi langganan bagi para pejabat maupun raja-raja pada zamannya. Selain itu tarian tersebut selalu mewakili Sumatera Utara di ajang pagelaran tingkat nasional maupun internasional.
Tapi siapa sangka ternyata tarian tersebut tidak bisa dipelajari sembarangan orang kecuali kalau memang sudah jodoh. Lewat turun temurun, tarian tujuh cawan dianggap sebagai tarian paling unik karena sang penari harus menjaga keseimbangan tujuh cawan yang diletakkan di kedua belah tangan kanan dan kiri tiga serta satu di kepala. “Ini bukan sekedar tari biasa, ini tarian misteri” kata Sedihma Br. Silalahi.

Ibu lima anak ini mengatakan tarian tujuh cawan mengandung arti pada setiap cawannya. Untuk cawan 1 mengandung makna kebijakan, cawan 2 kesucian, cawan 3 kekuatan, cawan 4 tatanan hidup, cawan 5 hukum, cawan 6 adat dan budaya, cawan 7 penyucian atau pengobatan. Kegunaan lain dari tarian ini adalah untuk membuang semua penghalang bagi orang yang hadir disitu, tentunya bagi yang percaya. Biasanya manusia punya kegagalan karna ada penghalang bawaan dari lahir, karma, guna-guna, atau akibat perbuatan sendiri.

Dari segi budaya, tarian ini merupakan tarian spiritual tertinggi di Danau Toba. Sekarang tarian ini juga digunakan untuk pelantikan menteri, walikota, bupati dll. Dari dulu tarian ini sudah menjadi kebanggan di kalangan orang Batak. Tarian ini juga dulunya digelar di opera Batak.
Pada tahun 2003 yang lalu, tarian tujuh cawan mewakili Indonesia di ajang pagelaran seni dan budaya tingkat dunia. Tiap tahun tarian ini selalu mewakili Sumut di ajang seni budaya tingkat nasional maupun internasional.

Sebelum menjadi penari tujuh cawan, Sedihma Br Silalahi bekerja di sebuah salon. Namun pada tahun 1991 lewat sebuah proses, anak bungsu tiga bersaudara ini beralih profesi menjadi panari tujuh cawan. Ia mengaku tidak pernah mempelajari tarian tersebut. Ia mengatakan tarian ini tidak bisa dipelajari, karna kalau dipelajari biasanya air yang ada di cawan bisa tumpah. Tarian ini membutuhkan gerakan yang gesit. Tarian ini didapat dari sebuah proses masuk lewat leluhur (kerasukan) Ratu Danau Toba.
Benar-benar tarian penuh misteri………..
Sumber : Harian Batak Pos (dengan beberapa perubahan)


Bila sobat2 bangso Batak mempunyai artikel / informasi ttg adat budaya Batak, dengan segala kerendahan hati kami mohonkan kesediaannya untuk mengirimkannya ke fb saya untuk selanjutnya saya kirimkan ke segenap 5000 an keluarga besar PARTOBA MARSADA. yang ada di komunitas ini dan akan kita cantumkan nama pengirimnya.
Hal ini tentu sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita bersama akan kekayaan adat dan budaya Batak.

Mauliate parjolo,,,

Horas... Mejuah-juah... Njuah-juah...

"KEBERAGAMAN" Hidup Bagaikan Taman Bunga

Kalimat itu kerap diperbincangkan dengan hangat di Beshara, sebuah komunitas diskusi spiritual di Jakarta. Tiap pekan, sekitar 20 penggiat komunitas ini berkumpul untuk berdiskusi. Mereka kerap menggali makna syair-syair Rumi, yang sebagian besar berisi ungkapan cinta kepada Tuhan.
Sabtu (28/8) sore, misalnya, Eva Muchtar (37) dan Rayanti Binawan (48), dua penggiat Beshara, ngobrol santai di sebuah kafe di Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan. Keduanya mencermati makna syair-syair Jalaluddin Rumi, sufi besar Turki yang hidup pada abad ke-13 Masehi. ”Kami mencintai cara Rumi mencintai Tuhan, bukan mengultuskan sosoknya,” kata Eva bersemangat.
Beshara tumbuh di Inggris sejak 28 tahun lalu dan 10 tahun terakhir berkembang di Jakarta. Tak hanya kaum Muslim, banyak orang berlatar belakang agama berbeda ikut serta dalam kegiatan kelompok ini. Mereka berkumpul bergantian lokasi, dengan niatan untuk bersilaturahim.
Setelah mendalami pesan syair cinta Rumi, mereka berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. Salah satu yang ditekankan, bagaimana membangun cinta dan kebersamaan di tengah segala perbedaan agama, etnik, dan latar belakang budaya manusia.
Sebagaimana diakui Rayanti, perbedaan memang kadang membuat manusia tidak nyaman. Ketika menemukan situasi semacam itu, ia mengandaikan dirinya tengah becermin.
”Apa yang membuat saya tak nyaman dengan perbedaan tersebut dan kenapa? Ujung-ujungnya, saya memaklumi, tak semua hal harus sesuai dengan pikiran dan keinginan,” ujarnya.
Kemajemukan
Ada beberapa kelompok lain yang sama-sama bergiat menumbuhkan kesadaran pluralisme alias kemajemukan. Sebut saja, antara lain, kelompok Al Hikam, Yayasan Barzakh, dan Yayasan Paramadina. Mereka rutin berdiskusi, memupuk persaudaraan, memperkuat rasa cinta, dan hidup rukun di tengah keberagaman.
Yayasan Barzakh, contohnya, mengembangkan wacana tasawuf dengan pengajian dan diskusi rutin. Pemandunya, Muhammad Zuhri, seorang guru sufi dari Pati, Jawa Tengah, yang akrab disapa Pak Muh. Kegiatan mereka telah berjalan selama 15 tahun terakhir di Jakarta dengan peserta 60-an orang.
Ketua Umum Yayasan Barzakh Andri Aryadi menjelaskan, anggota Barzakh berusaha menempa diri demi mencapai takwa kepada Allah. Takwa lantas diwujudkan dengan bersikap welas asih kepada sesama. Mereka lebih fokus mengamalkan hakikat agama yang membawa kebaikan untuk manusia ketimbang meributkan perbedaan bentuk ritualnya.
”Ritual sosial tak kalah penting daripada ritual ibadah. Ibadah akan makin sempurna jika disertai melakukan kebajikan bagi sesama,” ujar Andri.
Semangat serupa dilontarkan pengajar tarikat Al Hikam di wilayah Jabodetabek, Mohammad Luqman Hakim. Dengan mengacu pada Kitab Al-Hikam karya Ahmad ibnu Athaillah al-Sakandary asal Mesir, kelompok ini menanamkan kecintaan kepada Tuhan yang diyakini bakal melahirkan cinta dan kasih sayang.
”Jika telah mengenal Allah Sang Pencipta, manusia akan berbelas kasih kepada orang lain,” katanya.
Dengan metode edukasi, Yayasan Paramadina di Jakarta juga getol memperjuangkan prinsip keberagaman. Saat ini kelompok yang didirikan Nurcholish Madjid (almarhum) tahun 1986 ini dipercaya mengisi materi pluralisme dan hak asasi manusia kepada aparat kepolisian. Harapannya, kepolisian lebih tanggap dan bijak dalam menyelesaikan gesekan antarkelompok dengan alasan agama.
”Aparat penegak hukum kini seperti masih takut atau ragu dalam menindak aksi anarki yang bertentangan dengan perlindungan HAM dan pluralisme. Padahal, kebebasan beragama dan berkeyakinan semestinya harus dijaga,” kata Direktur Program Yayasan Paramadina Ihsan Ali-Fauzi.
Taman bunga
Bisa dibilang, kehadiran kelompok pluralis itu bagaikan oase yang menyejukkan di tengah munculnya kekerasan atas nama agama dan sikap intoleran yang kian marak belakangan ini. Mereka memilih memupuk cinta kepada Sang Khalik sambil berbuat baik kepada sesama, tanpa membedakan latar belakang agama dan budaya.
Menurut Direktur Eksekutif International Centre for Islam and Pluralism Syafi’i Anwar, mau tak mau keberagaman memang telah menjadi sejarah bangsa ini. Bahkan, sebagian penyebar Islam di Jawa yang dikenal sebagai Wali Songo juga berdakwah lewat jalan akulturasi dengan budaya setempat. Kesadaran akan kemajemukan di tengah umat Muslim diharapkan dapat membentuk citra Islam sebagai agama yang cinta damai.
Cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat punya metafora menarik soal pluralisme. Ia ibaratkan kehidupan sebagai taman bunga yang sangat indah. Ada mawar, melati, anyelir, sedap malam, dahlia, dan sebagainya. Taman ini kehilangan pesonanya jika hanya punya sekuntum bunga.
Manusia bisa memetik bunga itu sesuai selera dan kehendaknya. Bunga apa pun yang dipetik, asal dipelihara dan diperlakukan dengan baik dan benar, tetap akan mekar dengan indah.
”Begitu pun agama. Ia bukan tujuan akhir kehidupan. Agama justru jadi alat dan basis nilai untuk menata keragaman kehidupan. Tujuan akhirnya adalah kesadaran eksistensi dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan,” katanya.

The Prayer of Faith

1 Kings 18:41-46
A committed and consistent prayer life is essential for every believer who wants to grow in his relationship with Christ. Yet so many Christians struggle in this area. What is hindering us?
No Burden: Being diligent is easy when we feel passionate about our request. We will storm the gates of heaven when a loved one is sick, but once the urgency is past, so is the prayer. We drift back into apathy.
No Time: We're busy and can see no way
to squeeze in regular prayer time without a drastic rearrangement of our schedule.
No Apparent Answer: We've tried praying, but God just doesn't seem to answer. Thinking, It's a waste of time, we give up.
James 5:16-18 tells us that Elijah was a righteous man whose effective prayer accomplished much. He was passionate and persistent because he knew God intimately and believed that He would answer. Past answers to prayer and time spent in His presence had strengthened the prophet's absolute trust in the Lord.
When Elijah first began to pray on the mountain, there was no apparent answer, and yet he continued to seek the Lord. God is always working around us whether we perceive it or not. Eyes of faith can see His presence and involvement even when there's no tangible evidence.
God did not design prayer as simply an avenue for requests; spending time in conversation with our heavenly Father is meant to help us know and love Him. Then, as we grow in passion for the Lord, spending time with Him will be a delight, and life turns into an adventure of faith.

Rabu, 25 Agustus 2010

Bagaimana cara mengakhiri hubungan

Anda ingin mengakhiri hubungan asmara yang selama ini dijalani? Memutuskan hubungan memang bukan pekerjaan mudah. Pasti akan muncul perasaan bersalah, kecewa dan sedih. Itu tak terhindarkan.

Agar keadaan tidak memanas, sebaiknya jangan lakukan hal berikut saat memutuskan hubungan.

Berada di tempat umum

Pilih tempat bertemu di mana Anda dan dia memiliki privasi maksimal. Jangan melakukannya di tempat umum. Jika terjadi pertengkaran Anda tentu tidak ingin menjadi tontonan, kan?

Memilih tempat favorit

Saat putus, hal-hal buruk bisa terjadi. Sebaiknya, pilih tempat baru. Hindari tempat favorit yang biasa Anda dan dia datangi, yang memungkinkan para pelayan bisa mengenali kalian. Ini untuk menghindari perasaan tidak enak jika Anda datang kembali tempat tersebut pascaputus.

Hargai dia

Jangan memutuskan hubungan sambil melakukan hal lain, seperti sambil makan atau memilih menu. Hargai dia, meskipun Anda tidak lagi menyukainya. Katakan dengan tegas kalau Anda ingin memutuskan hubungan. Ingatlah, bagaimanapun dia pernah jadi bagian hidup Anda, jadi hargai dia.

Memutuskan lewat telepon, sms, atau email

Orang yang tidak berani atau tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung akan memanfaatkan teknologi untuk memutuskan hubungan. Seperti lewat telepon, sms ataupun email. Jika Anda merasa sudah cukup dewasa, jangan lakukan hal itu. Akhirilah hubungan dengannya secara baik seperti ketika memulai hubungan. Jangan jadi pengecut!

Jumat, 13 Agustus 2010

FILM BOX OFFICE DALAM BAHASA BATAK









Enemy at the gates -- Matte ho, nga ro !
Remember the Titans -- Ingot hamu partompaon i
The Italian Job -- Parbola
Die Hard -- Dang ra mate
Die Hard II -- Tong, dang olo mate
Die Hard III -- Dang marna mate fuang !!
Bad Boys -- Si roa balangs
Sleepless in Seattle -- Markombur di radio, dia boi modom ?
Lost in Space -- Dibondut banua holling
X-Men -- Pantang so bilak
X-Men 2 -- Tong sai pabilak-bilakhon
The Brotherhood of War -- Manat Mardongan-tubu
Paycheck -- Bayar habis panen ma i, bah!
Independence Day -- Agustusan
The Day After Tomorrow -- Haduan
Die Another Day -- Dang jadi mate sadarion
There is Something About Marry -- Si Maria Pargabus
Silence of the Lamb -- Hambing Parhohom
Planet of the Apes -- Huta ni Bodat
Gone in Sixty Second -- Marimpot-impot
Freddy vs Jason -- Peredi VS Jekson
Air Bud -- Panangga (biang)
How To Lose A Girl in 10 Days -- Topar
Lord Of The Ring -- Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup )
Deep Impact -- Hansit naii
Million Dollar Baby -- Ai sajuta arga ni Babi saonari?
Blackhawk Down -- Lali lao manangkup manuk
Saving Private Ryan -- (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar 'rian'. Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, ... dll.)
Dumb and Dumber -- Lam Loakon
The Collateral -- Si Padalan Hepeng
Braveheart -- Parate-ate
Payback -- Garar Utangmu
My Greek Big Fat Wedding -- Muli Sikobol-kobol
I Know What You Did Last Summer -- Datu
I Still Know What You Did Last Summer -- Unang gabusi ahu, hutanda do ho Ito
Cold Mountain -- Dolok Sanggul ma i...
Any Given Sunday -- Marminggu Hamu Fuang
Beautiful Mind -- Nipi Nama i
Drunken Master -- Parmitu
The Gift -- Durung-durung
Lion King -- Sisingamangaraja
Mr. & Mrs. Smith -- Smith Dohot Oroan na
Rest In Peace -- Dison Do Maradian (bah, judul film apa pulak lagi ini?)
Run Away Jury -- Martabuni Ho Tulang a
Step Mom -- Inang Pamola-mola
Band of Brother --- Dongan Sabutuha, Dongan Sapargaulan
2 Fast 2 Furious --- Manat-manat di dalan ate so tarjollung poang.

Jumat, 06 Agustus 2010

Batak Dibalik Sebuah Nama

Batak sebagai sebuah sebutan memang mengandung banyak arti dan pengartian. Untuk sebuah negara besar seperti Indonesia yang sudah berjumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa dari 300-an etnis suku, bahwa Batak menjadi sebutan yang tidak aneh lagi. Dari Sabang sampai Merauke, dari Sulu sampai Rote tidak ada yang tak mengenal kata Batak.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, tak bisa dipungkiri bahwa Batak telah ikut mengambil peran dalam dinamika kehidupan berbangsa. Dari keberagaman etnis suku di Indonesia mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa pernah ada sebuah bangsa yang disebut sebagai Bangsa Batak bahkan sebelum munculnya para cerdik cendekia di bumi Indonesia, Batak sudah menjadi issu yang mendunia pada peradaban bangsa-bangsa. Jauh sebelum Benua Amerika ditemukan dan sebelum Bangsa Amerika Serikat terbentuk, dan Bahkan sebelum bangsa-bangsa di Benua Amerika di temukan, maka Bangsa Batak sudah masuk dalam pencacahan wilayah oleh Bangsa Eropah yang pada saat itu menjadi pusat peradaban.

Arti kata “Batak” diberbagai referensi yang diterbitkan oleh orang batak diartikan sebagai orang memacu kuda. Mammatak, mambatak yang berarti memecut kuda supaya berlari kencang. Pengartian ini mungkin akan sulit diterima oleh generasi sekarang karena populasi kuda yang dulunya sangat terkenal dengan sebutan kuda Batak sudah tak kedengaran lagi.

Yang sangat mengejutkan bahwa ada penemuan arkeologis pada sebuah kapal karam di Lembah Indus yang diperkirakan terjadinya perdagangan dijaman besi (Bronze age) dengan menggunakan sistim tulis disekitar 2000 – 3000 tahun Sebelum Masehi. Para ahli sedang berusaha untuk mengungkap arti dari kata “bat.a” dan “melakkha (mlecchas)” Diperkirakan sudah terjadi perdagangan yang dilakukan dengan menggunakan kapal laut dari sebuah pulau. Menurut sebuah kisah besar bahwa mlecchas terletak disebuah pulau, dimana raja-raja mlecchas ada di pulau yang ada di lautan. Menurut penulis yang disebutkan adalah Pulau Sumatra yang dikelilingi oleh laut Malaka. Bahan dagang seperti kayu, timah dan tembaga diperkirakan terdapat di Pulau Sumatra sebagaimana saat ini, Pulau Bangka menjadi penghasil utama timah. Pada bongkahan timah ditemukan tulisan hieroglyph yang diartikan sebagai mlecchas dan bat.a yang goresannya mirip aksara Batak (ba ta). Kata bat.a dan variannya diartikan dengan berbagai pengertian antara lain seperti; jalan, peleburan loogam, burung puyuh, orang gunung (highwayman), berkelana, berkeliaran, pengelana, dan lain-lain.

Sepercik Resitasi Sejarah

Bangsa Eropah pernah mencatat Batak dengan sebutan Bata, Batta, Battas, Battaks, Batech. Bangsa Cina ada menyebutkan Pa-t’a untuk sebutan Batak. Sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi, Plato ada menyebutkan sebuah bangsa yang mempunyai peradapan sangat tinggi yang disebut Bangsa Atlantis yang terletak disebuah benua yang tenggelam. Para peneliti Atlantology mengindikasikan bahwa bangsa yang dimaksud adalah menjurus kepada sebuah bangsa yang disebut Bangsa Batak.

Masa sebelum memasuki milenia pertama dimana pusat peradaban dunia berkembang di Afrika Utara dan Timur Tengah, maka Tanah Batak sebagai pusat sumberdaya perdagangan dunia menjadi kawasan yang dicari oleh bangsa-bangsa, dan menjadi tempat tersembunyi secara rahasia dimana mereka menyebutnya sebagai Bangsa Timur yang penuh misteri. Tanah Batak yang misterius itu menjadi sumber komoditi utama untuk Kapur Barus, Kemenyan, Mas, dan komoditi berharga lainnya.

Pada awal milenia pertama, Kekaisaran Roma sudah merajai dunia, maka semua kawasan yang ada dipelosok bumi dicacah menjadi catatan kekuasaan Kekaisaran Roma. Pliny mengambil peran pencatatan wilayah ini sampai ke kawasan yang disebut Semenanjung Malaya. Mereka juga mencatatkan suku-suku yang terdapat dari mulai Mesir sampai ke Etiopia dan Arab, dan ada menyebutkan tentang Batta.

Semenjak Ptolemy (87 – 150 Masehi) seorang Yunani penulis buku Geographia” yang hidup di Alexaderia Mesir membuat pemetaan dunia yang memasukkan Aurea Chersonesus dengan Trapobane (Sumatra) sebagai pulau emas di Semenanjung Asia Tenggara. Pemetaan oleh Ptolemy memicu keinginan Colombus untuk mengarungi dunia dengan tujuan ke Timur namun dia kesasar sampai ke Benua Amerika yang dikiranya sebagai Pulau Emas yang dimaksud. Ptolemy juga menyebutkan “5 pulau Baroussai” yang kemungkinan pulau-pulau yang ada di sekitar Barus semisal pulau Nias dan pulau-pulau sekitarnya. Pada tahun 956 Masehi, seorang penulis Arab bernama Al-Mas’udi menuliskan bahwa ada sebanyak 4530 nama kota dan 200 nama gunung yang tercatat pada buku “Geographia” Ptolemy.

Kemisteriusan keberadaan Pulau Sumatra menjadi rahasia yang tetap disimpan oleh petualang-petualang dari India Gujarat dan Persia, Timur Tengah selama ratusan tahun agar tetap menguasai perdagangan barang berharga yang tidak terdapat dimana-mana kecuali di Tanah Batak yang mereka sebut Fansur atau Barus. Tidak ketinggalan Kekaisaran Cina ikut mengambil bagian dengan mengirimkan utusan-utusan dagang dengan armada-armada besar.

Semaraknya dunia perdagangan di Dunia Timur ini menggerakkan kekuasaan raja-raja di Sumatra untuk penguasaan wilayah dari mulai Aceh sampai ke ujung Pulau Sumatra. Perangpun tak luput terjadi antara kerajaan-kerajaan untuk dominasi penguasaan wilayah demi memperebutkan hasil bumi yang terdapat di Tanah Batak, untuk tujuan penjualannya kepada para pedagang India, Persia, Timur Tengah. Kerajaan Sriwijaya muncul untuk mengambil manfaat dari pajak-pajak perdagangan.

Kerajaan-kerajaan di Tanah Batak bermunculan terutama di daerah pesisir yang memang berhubungan langsung dengan dunia luar melalui hubungan dagang dengan akses sungai dan laut menjadi transportasi utama. Sebut saja Kerajaan Panei, Kerajaan Aru Barumun, Kerajaan-kerajaan di Tanah Simalungun, Nagur (Nakur), Gayo, Kerajaan Haru di daerah Medan sekitarnya yang terdiri dari Kerajaan Wampu, Kerajaan Delitua, sampai kepada kerajaan-kerajaan berbentuk kesultanan seperti di Hamparan Perak dan Deli.

Pada umumnya kerajaan-kerajaan Batak yang bermunculan dari klan marga yang bermukim disepanjang aliran sungai yang langsung bermuara ke pantai. Sementara kerajaan-kerajaan Batak yang bermukim di pedalaman terlindungi oleh kerajaan-kerajaan yang ada di pesisir untuk menjaga kerahasiaan bahan perdagangan menjadi misteri yang tertutupi. Kerajaan-kerajaan yang ada di pegunungan menjadi semacam kawasan suci yang eksklusive terjaga kerahasiaannya dari pengamatan orang/bangsa luar. Pengaruh budaya luar dan faham kepercayaan tidak luput mempengaruhi kultur purba Bangsa Batak sehingga terjadinya perubahan istilah original Batak menjadi Melayu. Sementara kultur primitif purba tetap lestari terjaga dari pengaruh luar dan menjadi ekslusif sebagai Tanah Suci leluhur Bangsa Batak di kawasan pedalaman pegunungan seperti di Toba dan Silindung.

Pada era yang bersamaan bertumbuh juga kerajaan-kerajaan yang bertetangga dengan Tanah Batak seperti Kerajaan Pasai, Samudra di Aceh. Intervensi kerajaan dari luar Sumatra tergiur pula dengan kekayaan alam yang ada, seperti dari Tamil Cola, termasuk Singosari dari Jawa yang kemudian Majapahitpun menguasainya. Sumpah Palapa Gajah Mada untuk menguasai kebesaran kerajaan Haru terpenuhi.

Kekayaan alam yang tiada taranya ini menggerakkan para petualang-petualang Eropah untuk secara langsung mencari tau dimana sumber kekayaan itu untuk selanjutnya menguasai bahan perdagangan dunia tersebut. Banyak ekspedisi kelautan yang dikirim oleh bangsa-bangsa Eropah. Marco Polo 1290 (1292) yang mengunjungi Fanfur atau Fansur sekaran disebut Barus sebagai tempat asal kapur barus (camphor) yang harganya setara emas untuk ukuran berat yang sama. Juga menyebutkan bahwa penduduknya bercocok tanam padi dan suka meminum tuak, dan disebutkan pula bahwa bahasanya agak khusus. Nicolo Conti dari Venesia di tahun 1449 mengatakan bahwa dia mengunjungi Sumatra yang di jaman purba disebut Taprobane dan menemukan penduduknya disebut Batech atau Batta. Tome Pires 1512-1514 menyebutkan terjadinya perdagangan dengan Bata. Odarus Barbosa 1516 menyebutkan bahwa penduduk Sumatra yang ada di pesisir sudah menganut faham Muhammad (Mohametan) sementara di pedalaman masih menganut paganisme. Sepucuk surat dari Raja Portugal – Emanuel kepada Paus Leo-X di tahun 1513 bahwa utusannya bernama Juan de Barros, Castaneda, Osorius dan Maffeus dalam suatu operasi yang disebut Diogo Lopez de Sequeira menemukan Zamatra (Sumatra) tepatnya di Pedir dan Pase di tahun 1509, dimana 2 tahun kemudian Alfonso de Alboquesque menyerang Malaka di tahun 1511. Disebutkan bahwa di daerah semenanjung banyak terdapat mas yang didatangkan dari daerah Monancabo (Minangkabau) dan Barros (Barus) di negri pulau bernama Camatra.

Wiliam Marsden seorang gubernur Bengkulu mengatakan bahwa Batak adalah sebuah bangsa di Sumatra yang paling jelas keberadaannya sebagai penduduk asli dibanding penduduk lainnya yang ada di Pulau Sumatra. Sangat terlihat perbedaannya yang sangat luarbiasa kehebatan kulturnya, sifat dan kebiasaannya.

Marsden memetakan batas-batas Tanah Batak dimulai dari utara berbatasan dengan Aceh dipisahkan oleh gunung Papa dan gunung Deira, di selatan berbatasan dengan Rau atau Rawa (sekarang Rao di Sumatra Barat), memanjang sepanjang Pantai Barat dari sungai Singkil sampai ke Tabuyong dan daratannya berbatas dengan Air Bangis sampai ke Pantai Timur yang dibatasi oleh kekuasaan Melayu (Riau/Jambi) dan Aceh. Dikatakan sangat banyak penduduknya terutama di pusat Tanah Batak dimana terletak danau yang sangat besar (Danau Toba). Tanahnya subur dan pertanian menyebar merata dibanding daerah bagian Selatan. Berada pada deretan Bukit Barisan yang bermula dari selat Sunda dan berakhir di Gunung Passumah (Gn. Ophir).

Marsden kemudian menguraikan pembagian districts (wilayah) berdasarkan data pemukiman Inggris, bahwa Bangsa Batak terbagi atas Batak Angkola, Batak Padambola (Padang Bolak), Batak Mandiling (Mandailing), Batak Toba, Batak Silindong (Selindung), dan Batak Singkel (Singkil). Batak Angkola disebutkan terdiri dari 5 suku (marga), Batak Padang Bolak terdiri dari 3 suku, Batak Mandailing terdiri dari 5 Suku. Batak Silindung terdiri dari banyak wilayah dimana rajanya bermukim di Silindung. Bahan-bahan mesiu (gun-powder) diproduksi di Silindung, tepatnya di tempat bernama Bata gopit (Batugopit) di kaki gunung aktif (Dolok Martimbang) yang menghasilkan belerang dan digunakan untuk pembuatan mesiu.

Perjalanan waktu yang panjang menunjukkan terjadinya degradasi Batak. Kerajaan-kerajaan Batak yang bermunculan di pesisir sebagai bumper zone penjagaan kemisteriusan dan kesucian Tanah Batak di pedalaman ternyata menjadikan hilangnya identitas Batak berubah menjadi Melayu. Tak bisa dipungkiri bahwa intensitas interaksi dengan bangsa lain dan pengaruh budaya dan kepercayaan terhadap Bangsa Batak yang ada dipesisir. Gelombang pengaruh besar ini berakibat merenggangnya intensitas hubungan kultur dengan pusat Tanah Batak. Terbentuklah kultur baru, terbentuk pula bangsa baru yang disebut Bangsa Melayu. Itulah pra-sejarah Bangsa Batak.

Pada media-sejarah Bangsa Batak masih ada terpelihara kultur budaya Bangsa Batak walaupun mulai dimasuki oleh Bangsa Eropah yang berorientasi kepada kolonisasi perdagangan hasil bumi. Kerajaan-kerajaan Batak yang ada di Pesisir Pantai Timur seperti Kerajaan Aru praktis berubah menjadi Melayu akibat orientasi hubungan yang intensif dengan Malaka dan akar budaya tulis sudah tidak terpakai lagi. Anutan faham Mohametan dengan sendirinya mempercepat putusnya hubungan pesisir dengan Pusat Tanah Batak yang masih ketat menganut keasliannya.

Sementara intensitas hubungan Bangsa Batak di Mandailing dengan Bangsa Minangkabau di perbatasannya juga semakin tinggi walaupun masing-masing kultur tidak secara mendasar membaur karena memang tatanan adat istiadat paternalis dan maternalis yang kontradiktif berbeda. Keagungan budaya tulis dengan Aksara Batak masih terpelihara di kawasan ini, dan inilah yang membedakan kebanggaan eksklusifisme Bangsa Batak di Mandailing tetap dipertahankan oleh mereka dibanding Bangsa Minangkabau yang memang tidak memiliki aksara. Faham Mohametan yang sudah dianut Bangsa Minangkabau ratusan tahun sebelumnya ternyata tidak secara langsung terjadinya pembauran yang membentuk identitas baru bagi Bangsa Batak di Mandailing.

Intensitas perdagangan di perbatasan Aceh dan Pusat Tanah Batak tidak lagi aktif sebagai pintu perdagangan yang sudah diambil alih oleh Malaka. Tidak ada konflik kultur terjadi di kawasan ini. Konflik kepentingan pengaruh jalur perdagangan hanya terjadi dengan kerajaan-kerajaan di Tanah Batak yang sudah menjadi Melayu. Oleh karena itu, pengaruh faham Mohametan diperbatasan ini tidak secara drastis menjadi konflik kultur.

Terjadinya pergolakan faham Mohametan dari aliran yang dibawakan oleh kaum Paderi pada Bangsa Minangkabau yang menghancurkan kultur asli Bangsa Minangkabau ternyata kemudian membawa bencana besar pada Bangsa Batak. Dekulturisasi besar-besaran terjadi dimulai dari Bangsa Batak di Mandailing oleh kaum Paderi, setelah menghancur leburkan Bangsa Minangkabau. Setelah Bangsa Batak di Mandailing di akuisisi oleh kaum Paderi dan dengan secepat kilat menjalar ke Bangsa Batak di Padang Bolak dan Angkola. Terjadi dekulturisasi besar-besaran pula pada Bangsa Batak di Padang Bolak dan Angkola. Pusat Bangsa Batak di Silindung dan Toba terancam diakuisisi oleh Paderi. Tidak seperti Bangsa Batak di Angkola, Padang Bolak, Mandailing yang dengan cerdas secara ‘monggo’ mengadopsi faham baru itu, sehingga kepunahanpun tidak terjadi.

Bangsa Batak di Angkola, Padang Bolak, Mandailing yang sudah mengalami dekulturisasi oleh Paderi, secepat kilat hanya dalam 2 tahun berubah menjadi Paderi karbitan. Lalu mereka berupaya untuk memunahkan Pusat Bangsa Batak di Silindung dan Toba. Bangsa Batak di Silindung dan di Toba hampir dipunahkan. Tiga perempat jumlah Bangsa Batak di Silindung dan di Toba punah terbunuh dengan pedang. Perampasan harta, pembumi-hangusan, perkosaan lalu dibunuh. Mujizatpun datang -entah karena apa- , Paderi yang sudah menguasai Tanah Batak di Silindung dan di Toba, secara tiba-tiba merasa ketakutan sehingga lari tunggang langgang sambil diserang dari belakang. Menjadi Paderi karbitan ternyata tidak sertamerta membuahkan hasil gemilang bagi Paderi. Pemberontakan demi pemberontakan ternyata timbul ditengah Bangsa Batak yang ada di Angkola, Padang Bolak, dan Mandailing. Mereka saling bunuh, bahkan meminta bantuan pada calon penjajah Belanda yang memang baru masuk ke Tanah Batak untuk menjajah. Dalam kurun waktu hanya 4 tahun saja Bangsa Batak sudah di agitasi oleh Paderi, mengalami dekulturisasi, depresi, hilang kepercayaan diri dan tanpa pegangan. Perang saudara ini seharusnya memaknai bahwa kesombongan Bangsa Batak di pusat kekuasaannya yang diagungkan selama ribuan tahun, dapat runtuh hanya dalam 4 tahun saja.

Masuknya penjajahan Belanda ke Tanah Batak menjadi lanjutan kehancuran kultur Bangsa Batak. Mulai adanya kesadaran dekulturisasi oleh Paderi memunculkan pemberontakan kepada Paderi karbitan dan dengan sendirinya terjadi perang antar saudara yang saling memusnahkan. Kesadaran ini ternyata tidak membawa Bangsa Batak di Angkola, Padang Bolak, dan Mandailing kembali kepada kultur aslinya, malah menjadi faham anutan oleh karena penjajahan Bangsa Belanda bukan dianggap sebagai penjajahan wilayah atas kepentingan komersial melainkan dianggap sebagai penjajahan kontra faham yang bermusuhan.

Kegagalan dekulturisasi Bangsa Batak di Silindung dan di Toba oleh Paderi, ternyata masih berlanjut dengan masuknya evangelisasi Kristen. Bangsa Batak di Silindung dan Toba sudah kehilangan kepercayaan diri dan terombang ambing tanpa pegangan. Evangelisasi Kristen di Tanah Batak Silindung seolah mendapat berkat tersembunyi (blessing in disguise) akibat perang saudara semasa Paderi. Secara perlahan dan pasti Evangelisasi Kristen dengan aksi damainya berhasil melakukan dekulturisasi Bangsa Batak secara mulus. Berhasilnya dekulturisasi Bangsa Batak di Silindung dan Toba oleh Evangelisasi Kristen, berlanjut pula dengan penjajahan oleh Bangsa Belanda sehingga muncul Perang Batak yang diproklamirkan oleh Sisingamangaraja-XII di tahun 1877 dan berakhir di tahun 1907.

Jaman pergerakan kemerdekaan juga tidak luput dari andil orang-orang Batak sebagai komponen Bangsa Batak. Jong Batak sebagi wadah pergerakan oleh pemuda yang berwujud penjadi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 menyatukan tekat dengan bersumpah bahwa Bangsa Batak ikut bertumpah darah satu Tanah Air Indonesia, ikur berbangsa satu Bangsa Indonesia, ikut bertanah air satu Tanah Air Indonesia. Sekarang Tanah Batak sudah menjadi Tanah Air Indonesia.

Pada era kemerdekaan setelah Indonesia membentuk Negara Republik Indonesia, orang Batak menjadi Perdana Mentri di tahun 1947-1948. Era Demokrasi Parlementer juga orang Batak menjadi Perdana Menteri di tahun 1955-1956. Kemudian dari era Demokrasi Terpimpin. Era Orde Baru, ada orang Batak menjadi Wakil Presiden. Era Reformasi sampai sekarang, ada saja orang Batak yang ikut mengurusi negara ini.

Apa Itu Korupsi? Adakah itu terdapat di tanah Batak?

Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok).
Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut:

* perbuatan melawan hukum;
* penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
* memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
* merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, di antaranya:

* memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);
* penggelapan dalam jabatan;
* pemerasan dalam jabatan;
* ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara);
* menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.

Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas|kejahatan.

Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.

Nah di tanah Batak apa saja ya praktek yang mengarah ke korupsi itu??
(benar-tidaknya, tergantung penilaian kaca mata kita masing)

1. Hepeng parkopi (uang kopi): Uang tambahan yang diberikan ketika melakukan suatu urusan, misalnya berkaitan dengan urusan administrasi.

2. Hepeng par sigaret (uang rokok): Uang yang dibayarkan oleh seseorang untuk mempercepat penyelesaian suatu urusan. Istilah ini muncul ketika warga harus berurusan dengan aparat, terutama ketika mengurus administrasi, seperti surat izin.

3. Hepeng pataruon (uang antar): Uang yang diberikan kepada seseorang untuk meneruskan urusan kepada seseorang. Misalnya uang diberikan oleh warga kepada pegawai PDAM yang melakukan pencatatan meteran dan menagih pembayaranya. Warga bersedia melakukan itu karena merasa sudah ditolong sehingga tidak perlu bersusah payah membayar ke loket.

4. Uang pago-pago: Uang yang diberikan suatu proyek atau kegiatan yang dibagi-bagikan. Misalnya, ketika mendapatkan proyek, kita harus memberikan uang pago-pago kepada pemberi proyek.

5. Silua: Menggambarkan kebiasaan untuk membawa oleh-oleh ketika berkunjung ke rumah seseorang. Kebiasaan ini kemudian berkembang tidak hanya dilakukan ketika berkunjung ke rumah kerabat, tetapi juga dilakukan oleh bawahan ketika berkunjung ke rumah atasan agar memperoleh kenaikan jabatan.

6. Manulangi: Membuat suatu acara dengan memberi makan kepada seseorang yang dihormati.

7. Hepeng hamauliateon: Uang yang diberikan kepada seseoarang karena telah membantu mempercepat penyelesaian suatu urusan, misalnya dalam pengurusan administrasi.

8. Hapeng siram: Uang yang diberikan untuk menyogok seseorang agar urusannya dipermudah.


Bah horas ma ate...!!!