HUTA
HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU
Selasa, 27 September 2011
Ketika negera ini disibukkan dengan gelar "pahlawan" Pak Harto
Yang namanya pahlawan adalah orang yang telah berjasa dan berkorban untuk negara.
Jika ada pertanyaan : 'kira-kira pak suharto layak gak di sebut pahalawan.???
Jawab: : ya di hitung-hitung dulu jasanya berapa korbanya berapa??
Jika banyak jasanya maka layak di sebut pahlawan, tapi jika banyak korbannya
maka layak di sebut pahlawan kebengisan.
Itu adalah hala yang ada dibenakku pagi ini.
Mungkin negeri ini masih saja gila akan kehormatan, yang tentunnya sebenarnya telah mendasar dari tradisi yang mengakar pada budaya tiap suku-suku di bangsa ini. Sebut saja Batak yang selalu mandambakan hasangapon (kekuasaan, kedudukan sosial/jabatan/respected ), hamoraan (kekayaan), dan hagabeon (keturunan).
Kata hasangapon terlalu disakralkan, bahkan sebagian besar dari kita menerima peribahasa manusia mati meninggalkan nama. Dan mungkin itu jugalah yang menjadi akar masalah dari pemberian gelar kepada seseorang, tergantung layak atau tidaknya diberikan.
Ukuran kehormatan juga tidak selalu sejalan dengan posisi/jabatan seseorang di dalam masyarakat. Kehormatan seseorang adalah hasil dari perjalanan panjang yang dibangun melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya sebagai masifestasi dari sistem nilai yang ditunjukkan oleh yang bersangkutan, seperti integritas, trusted person/trustworthy, credible, positive thinking dan walk the talk. Kehormatan tidak datang otomatis dengan semakin tingginya jabatan/posisi, kehormatan adalah sesuatu yang harus di-earned. Kalau seseorang memiliki haserepon, tentu kehormatan ini akan dapat dicapai. Banyak contoh yang menunjukkan orang-orang yang dihormati dalam lingkungannya walaupun jabatan/posisinya tidak tinggi, sebaliknya banyak juga orang-orang yang sudah memiliki kedudukan/posisi/jabatan yang cukup terhormat, tetapi tidak dihormati di dalam lingkungannya. Sebagaimana kita ketahui Pak Harto adalah presiden negeri ini dalam rentang waktu yang paling lama, yang tentunya bergelimang prestasi dan kemunduran, dua sisi yang selalu ada, tergantung bagaimana memandangnya.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Bapak kedua negeri ini, pemberian gelar pahlawan sebenarnya sah-sah saja jika hanya menilik dari perbuatan Beliau sebagaimana dikenal Bapak Pembangunan. Tapi, bukankah gelar bapak pembangunan itu sudah sangat cukup bilamana dilihat dari tracj record beliau di sisi politik dan HAM???
Untuk menjadikannya sebagai pahlawan saya rasa masih kurang pas dan belum cukup pantas karena melihat sejarah kelam saat mulai berkuasa dan di ujung kekuasaannya. Memang orang-orang yang hanya melihat secara kasat mata serta membandingkannya dengan kondisi sekarang bisa bicara dulu/zaman dia berkuasa lebih baik yaitu: sembako murah tapi kan itu karena impor jalan terus dengan pembiyaan utang negara, stabilsasi keamanan baik tapi toch dengan cara tangan besi juga. Cara-cara yang saat ini dengan era media keterbukaan serta menjunjung HAM sungguh tidak sewajarnya. Untuk Pembangunan menurut pendapat saya Beliau semestinya dapat membangun negara ini lebih baik dari sekarang 32 tahun berkuasa, kondisi ekonomi dunia. Saat itu masih baik, sekarang kita sama Thailand juga kalah. Beliau kalah dalam kaderisasi anak bangsa. Terlalu percaya diri, dan tidak bisa memprediksi masa depan bangsa.
Smoga sedikit gambaran ini, semakin membuka wawasan kita, akan sebuah gelar "PAHLAWAN BANGSA".
Kamis, 15 September 2011
Jumat, 26 Agustus 2011
RUMUS HIDUP KAWAN
belajar dari 0 = mudah
belajar jadi 0 = susah
ketika rumus kapitalisme adalah perkalian,
maka sosialisme sama dengan pembagian.
Hegemoni, kekuasaan, lahir melewati sistem penjumlahan
dan hidup dengan pengurangan.
manusia adalah 1
ketika menjadi 0
yang disebut bilangan prima adalah bilang aku biasa saja
tiada dan seumpama udara
memberi tapi juga tiada bisa ditebas
dan kedamaian...
jua ketentraman...
hanya akan terjadi bila manusia tak lagi memprioritaskan "budaya ulu hati hingga atas lutut"...
selama manusia berpegang pada budaya itu, ambisi setiap manusia akan terus meletup-letup...
meninggalkan arti kebersamaan dan bekerja untuk sesama manusia lainnya, serta alam raya...
semoga setiap insan di dunia ini dimuliakan atas berkat dan rahmat kedua faham itu, yang sebenarnya mempunyai cita-cita sama untuk mensejahterakan kehidupan manusia...
rumus yang sederhana yang menawarkan pendalaman pada jati kita ini
rumus yang sepintas sederhana saudaraku
tapi langka karena membutuhkan kebesaran hati dan jiwa
dan ini hanya bermaksud memanusiakan manusia saja
Horas jala gabe...
Antara Pasir Dan Batu
Kisah ini menceritakan tentang dua sahabat yang berjalan melintasi gurun pasir.
Saat berjalannya waktu, mereka mulai bertengkar dan yang satupun menampar pipi sahabatnya. Yang ditampar pipinya, hatinya terluka tapi tanpa berkata sepatah katapun, dia kemudian menulis di pasir.
“Hari ini sahabat baikku menampar wajahku.”
Mereka meneruskan perjalanannya sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk beristirahat dan mandi.
Tetapi orang yang wajahnya ditampar, terjebak di pasir penghisap dan tenggelam, tetapi sahabatnya berhasil menyelamatkannya. Setelah pulih keadaannya, dia mengukir kalimat di sebuah batu.
“Hari ini sahabat baikku telah menyelamatkan hidupku.”
Orang yang telah menampar sahabatnya dan kemudian menolongnya lalu bertanya,
”Setelah aku menampar, kamu menulis di pasir, dan sekarang kamu menulis di batu, kenapa begitu ?”
Sahabat yang ditanya menjawab, ”Ketika seseorang menyakiti, kita harus menuliskannya di pasir sehingga angin bisa memaafkan kita dengan meniupnya lenyap tak berbekas. Tapi saat orang melakukan kebaikan untuk kita, kita harus mengukirnya di batu, supaya tidak ada satu anginpun yang sanggup menghapuskan ingatan indah itu.”
Jadi, belajarlah untuk menuliskan kepedihanmu di pasir dan mengukir pengalaman baikmu di batu cadas.
Orang bijak berkata, memerlukan satu menit untuk bisa menemukan seseorang yang spesial, satu jam untuk bisa menghargainya, satu hari untuk bisa menyukai dan mengasihi tetapi dibutuhkan waktu seumur hidup untuk bisa melupakannya.
Ini adalah pesan untuk orang yang tidak bisa engkau lupakan dan juga kepada orang yang telah mengirimkannya kepadamu. Ini adalah pesan singkat untuk mengatakan bahwa kamu tidak akan pernah melupakan mereka.
Sabtu, 11 Juni 2011
rAp-RaP
Jika pacarmu lari ke surga, kejarlah dengan amal.
Jika pacarmu lari ke laut, kejarlah dengan perahu.
Jika pacarmu lari ke pelukan orang lain, kejarlah dengan kayu.
Doltuk uluna i kedan.
Gogo bahen kedan.
Asa unang somal-somal.
:D
Jika pacarmu lari ke laut, kejarlah dengan perahu.
Jika pacarmu lari ke pelukan orang lain, kejarlah dengan kayu.
Doltuk uluna i kedan.
Gogo bahen kedan.
Asa unang somal-somal.
:D
Langganan:
Postingan (Atom)


