HUTA

HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU

Jumat, 26 Agustus 2011

RUMUS HIDUP KAWAN


belajar dari 0 = mudah

belajar jadi 0 = susah



ketika rumus kapitalisme adalah perkalian,

maka sosialisme sama dengan pembagian.

Hegemoni, kekuasaan, lahir melewati sistem penjumlahan

dan hidup dengan pengurangan.



manusia adalah 1

ketika menjadi 0

yang disebut bilangan prima adalah bilang aku biasa saja
tiada dan seumpama udara
memberi tapi juga tiada bisa ditebas

dan kedamaian...
jua ketentraman...
hanya akan terjadi bila manusia tak lagi memprioritaskan "budaya ulu hati hingga atas lutut"...
selama manusia berpegang pada budaya itu, ambisi setiap manusia akan terus meletup-letup...
meninggalkan arti kebersamaan dan bekerja untuk sesama manusia lainnya, serta alam raya...
semoga setiap insan di dunia ini dimuliakan atas berkat dan rahmat kedua faham itu, yang sebenarnya mempunyai cita-cita sama untuk mensejahterakan kehidupan manusia...

rumus yang sederhana yang menawarkan pendalaman pada jati kita ini
rumus yang sepintas sederhana saudaraku
tapi langka karena membutuhkan kebesaran hati dan jiwa
dan ini hanya bermaksud memanusiakan manusia saja

Horas jala gabe...

Antara Pasir Dan Batu


Kisah ini menceritakan tentang dua sahabat yang berjalan melintasi gurun pasir.
Saat berjalannya waktu, mereka mulai bertengkar dan yang satupun menampar pipi sahabatnya. Yang ditampar pipinya, hatinya terluka tapi tanpa berkata sepatah katapun, dia kemudian menulis di pasir.
“Hari ini sahabat baikku menampar wajahku.”
Mereka meneruskan perjalanannya sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk beristirahat dan mandi.
Tetapi orang yang wajahnya ditampar, terjebak di pasir penghisap dan tenggelam, tetapi sahabatnya berhasil menyelamatkannya. Setelah pulih keadaannya, dia mengukir kalimat di sebuah batu.
“Hari ini sahabat baikku telah menyelamatkan hidupku.”
Orang yang telah menampar sahabatnya dan kemudian menolongnya lalu bertanya,
”Setelah aku menampar, kamu menulis di pasir, dan sekarang kamu menulis di batu, kenapa begitu ?”
Sahabat yang ditanya menjawab, ”Ketika seseorang menyakiti, kita harus menuliskannya di pasir sehingga angin bisa memaafkan kita dengan meniupnya lenyap tak berbekas. Tapi saat orang melakukan kebaikan untuk kita, kita harus mengukirnya di batu, supaya tidak ada satu anginpun yang sanggup menghapuskan ingatan indah itu.”
Jadi, belajarlah untuk menuliskan kepedihanmu di pasir dan mengukir pengalaman baikmu di batu cadas.
Orang bijak berkata, memerlukan satu menit untuk bisa menemukan seseorang yang spesial, satu jam untuk bisa menghargainya, satu hari untuk bisa menyukai dan mengasihi tetapi dibutuhkan waktu seumur hidup untuk bisa melupakannya.
Ini adalah pesan untuk orang yang tidak bisa engkau lupakan dan juga kepada orang yang telah mengirimkannya kepadamu. Ini adalah pesan singkat untuk mengatakan bahwa kamu tidak akan pernah melupakan mereka.