HUTA

HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU

Rabu, 25 Agustus 2010

Bagaimana cara mengakhiri hubungan

Anda ingin mengakhiri hubungan asmara yang selama ini dijalani? Memutuskan hubungan memang bukan pekerjaan mudah. Pasti akan muncul perasaan bersalah, kecewa dan sedih. Itu tak terhindarkan.

Agar keadaan tidak memanas, sebaiknya jangan lakukan hal berikut saat memutuskan hubungan.

Berada di tempat umum

Pilih tempat bertemu di mana Anda dan dia memiliki privasi maksimal. Jangan melakukannya di tempat umum. Jika terjadi pertengkaran Anda tentu tidak ingin menjadi tontonan, kan?

Memilih tempat favorit

Saat putus, hal-hal buruk bisa terjadi. Sebaiknya, pilih tempat baru. Hindari tempat favorit yang biasa Anda dan dia datangi, yang memungkinkan para pelayan bisa mengenali kalian. Ini untuk menghindari perasaan tidak enak jika Anda datang kembali tempat tersebut pascaputus.

Hargai dia

Jangan memutuskan hubungan sambil melakukan hal lain, seperti sambil makan atau memilih menu. Hargai dia, meskipun Anda tidak lagi menyukainya. Katakan dengan tegas kalau Anda ingin memutuskan hubungan. Ingatlah, bagaimanapun dia pernah jadi bagian hidup Anda, jadi hargai dia.

Memutuskan lewat telepon, sms, atau email

Orang yang tidak berani atau tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung akan memanfaatkan teknologi untuk memutuskan hubungan. Seperti lewat telepon, sms ataupun email. Jika Anda merasa sudah cukup dewasa, jangan lakukan hal itu. Akhirilah hubungan dengannya secara baik seperti ketika memulai hubungan. Jangan jadi pengecut!

Jumat, 13 Agustus 2010

FILM BOX OFFICE DALAM BAHASA BATAK









Enemy at the gates -- Matte ho, nga ro !
Remember the Titans -- Ingot hamu partompaon i
The Italian Job -- Parbola
Die Hard -- Dang ra mate
Die Hard II -- Tong, dang olo mate
Die Hard III -- Dang marna mate fuang !!
Bad Boys -- Si roa balangs
Sleepless in Seattle -- Markombur di radio, dia boi modom ?
Lost in Space -- Dibondut banua holling
X-Men -- Pantang so bilak
X-Men 2 -- Tong sai pabilak-bilakhon
The Brotherhood of War -- Manat Mardongan-tubu
Paycheck -- Bayar habis panen ma i, bah!
Independence Day -- Agustusan
The Day After Tomorrow -- Haduan
Die Another Day -- Dang jadi mate sadarion
There is Something About Marry -- Si Maria Pargabus
Silence of the Lamb -- Hambing Parhohom
Planet of the Apes -- Huta ni Bodat
Gone in Sixty Second -- Marimpot-impot
Freddy vs Jason -- Peredi VS Jekson
Air Bud -- Panangga (biang)
How To Lose A Girl in 10 Days -- Topar
Lord Of The Ring -- Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup )
Deep Impact -- Hansit naii
Million Dollar Baby -- Ai sajuta arga ni Babi saonari?
Blackhawk Down -- Lali lao manangkup manuk
Saving Private Ryan -- (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar 'rian'. Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, ... dll.)
Dumb and Dumber -- Lam Loakon
The Collateral -- Si Padalan Hepeng
Braveheart -- Parate-ate
Payback -- Garar Utangmu
My Greek Big Fat Wedding -- Muli Sikobol-kobol
I Know What You Did Last Summer -- Datu
I Still Know What You Did Last Summer -- Unang gabusi ahu, hutanda do ho Ito
Cold Mountain -- Dolok Sanggul ma i...
Any Given Sunday -- Marminggu Hamu Fuang
Beautiful Mind -- Nipi Nama i
Drunken Master -- Parmitu
The Gift -- Durung-durung
Lion King -- Sisingamangaraja
Mr. & Mrs. Smith -- Smith Dohot Oroan na
Rest In Peace -- Dison Do Maradian (bah, judul film apa pulak lagi ini?)
Run Away Jury -- Martabuni Ho Tulang a
Step Mom -- Inang Pamola-mola
Band of Brother --- Dongan Sabutuha, Dongan Sapargaulan
2 Fast 2 Furious --- Manat-manat di dalan ate so tarjollung poang.

Jumat, 06 Agustus 2010

Batak Dibalik Sebuah Nama

Batak sebagai sebuah sebutan memang mengandung banyak arti dan pengartian. Untuk sebuah negara besar seperti Indonesia yang sudah berjumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa dari 300-an etnis suku, bahwa Batak menjadi sebutan yang tidak aneh lagi. Dari Sabang sampai Merauke, dari Sulu sampai Rote tidak ada yang tak mengenal kata Batak.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, tak bisa dipungkiri bahwa Batak telah ikut mengambil peran dalam dinamika kehidupan berbangsa. Dari keberagaman etnis suku di Indonesia mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa pernah ada sebuah bangsa yang disebut sebagai Bangsa Batak bahkan sebelum munculnya para cerdik cendekia di bumi Indonesia, Batak sudah menjadi issu yang mendunia pada peradaban bangsa-bangsa. Jauh sebelum Benua Amerika ditemukan dan sebelum Bangsa Amerika Serikat terbentuk, dan Bahkan sebelum bangsa-bangsa di Benua Amerika di temukan, maka Bangsa Batak sudah masuk dalam pencacahan wilayah oleh Bangsa Eropah yang pada saat itu menjadi pusat peradaban.

Arti kata “Batak” diberbagai referensi yang diterbitkan oleh orang batak diartikan sebagai orang memacu kuda. Mammatak, mambatak yang berarti memecut kuda supaya berlari kencang. Pengartian ini mungkin akan sulit diterima oleh generasi sekarang karena populasi kuda yang dulunya sangat terkenal dengan sebutan kuda Batak sudah tak kedengaran lagi.

Yang sangat mengejutkan bahwa ada penemuan arkeologis pada sebuah kapal karam di Lembah Indus yang diperkirakan terjadinya perdagangan dijaman besi (Bronze age) dengan menggunakan sistim tulis disekitar 2000 – 3000 tahun Sebelum Masehi. Para ahli sedang berusaha untuk mengungkap arti dari kata “bat.a” dan “melakkha (mlecchas)” Diperkirakan sudah terjadi perdagangan yang dilakukan dengan menggunakan kapal laut dari sebuah pulau. Menurut sebuah kisah besar bahwa mlecchas terletak disebuah pulau, dimana raja-raja mlecchas ada di pulau yang ada di lautan. Menurut penulis yang disebutkan adalah Pulau Sumatra yang dikelilingi oleh laut Malaka. Bahan dagang seperti kayu, timah dan tembaga diperkirakan terdapat di Pulau Sumatra sebagaimana saat ini, Pulau Bangka menjadi penghasil utama timah. Pada bongkahan timah ditemukan tulisan hieroglyph yang diartikan sebagai mlecchas dan bat.a yang goresannya mirip aksara Batak (ba ta). Kata bat.a dan variannya diartikan dengan berbagai pengertian antara lain seperti; jalan, peleburan loogam, burung puyuh, orang gunung (highwayman), berkelana, berkeliaran, pengelana, dan lain-lain.

Sepercik Resitasi Sejarah

Bangsa Eropah pernah mencatat Batak dengan sebutan Bata, Batta, Battas, Battaks, Batech. Bangsa Cina ada menyebutkan Pa-t’a untuk sebutan Batak. Sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi, Plato ada menyebutkan sebuah bangsa yang mempunyai peradapan sangat tinggi yang disebut Bangsa Atlantis yang terletak disebuah benua yang tenggelam. Para peneliti Atlantology mengindikasikan bahwa bangsa yang dimaksud adalah menjurus kepada sebuah bangsa yang disebut Bangsa Batak.

Masa sebelum memasuki milenia pertama dimana pusat peradaban dunia berkembang di Afrika Utara dan Timur Tengah, maka Tanah Batak sebagai pusat sumberdaya perdagangan dunia menjadi kawasan yang dicari oleh bangsa-bangsa, dan menjadi tempat tersembunyi secara rahasia dimana mereka menyebutnya sebagai Bangsa Timur yang penuh misteri. Tanah Batak yang misterius itu menjadi sumber komoditi utama untuk Kapur Barus, Kemenyan, Mas, dan komoditi berharga lainnya.

Pada awal milenia pertama, Kekaisaran Roma sudah merajai dunia, maka semua kawasan yang ada dipelosok bumi dicacah menjadi catatan kekuasaan Kekaisaran Roma. Pliny mengambil peran pencatatan wilayah ini sampai ke kawasan yang disebut Semenanjung Malaya. Mereka juga mencatatkan suku-suku yang terdapat dari mulai Mesir sampai ke Etiopia dan Arab, dan ada menyebutkan tentang Batta.

Semenjak Ptolemy (87 – 150 Masehi) seorang Yunani penulis buku Geographia” yang hidup di Alexaderia Mesir membuat pemetaan dunia yang memasukkan Aurea Chersonesus dengan Trapobane (Sumatra) sebagai pulau emas di Semenanjung Asia Tenggara. Pemetaan oleh Ptolemy memicu keinginan Colombus untuk mengarungi dunia dengan tujuan ke Timur namun dia kesasar sampai ke Benua Amerika yang dikiranya sebagai Pulau Emas yang dimaksud. Ptolemy juga menyebutkan “5 pulau Baroussai” yang kemungkinan pulau-pulau yang ada di sekitar Barus semisal pulau Nias dan pulau-pulau sekitarnya. Pada tahun 956 Masehi, seorang penulis Arab bernama Al-Mas’udi menuliskan bahwa ada sebanyak 4530 nama kota dan 200 nama gunung yang tercatat pada buku “Geographia” Ptolemy.

Kemisteriusan keberadaan Pulau Sumatra menjadi rahasia yang tetap disimpan oleh petualang-petualang dari India Gujarat dan Persia, Timur Tengah selama ratusan tahun agar tetap menguasai perdagangan barang berharga yang tidak terdapat dimana-mana kecuali di Tanah Batak yang mereka sebut Fansur atau Barus. Tidak ketinggalan Kekaisaran Cina ikut mengambil bagian dengan mengirimkan utusan-utusan dagang dengan armada-armada besar.

Semaraknya dunia perdagangan di Dunia Timur ini menggerakkan kekuasaan raja-raja di Sumatra untuk penguasaan wilayah dari mulai Aceh sampai ke ujung Pulau Sumatra. Perangpun tak luput terjadi antara kerajaan-kerajaan untuk dominasi penguasaan wilayah demi memperebutkan hasil bumi yang terdapat di Tanah Batak, untuk tujuan penjualannya kepada para pedagang India, Persia, Timur Tengah. Kerajaan Sriwijaya muncul untuk mengambil manfaat dari pajak-pajak perdagangan.

Kerajaan-kerajaan di Tanah Batak bermunculan terutama di daerah pesisir yang memang berhubungan langsung dengan dunia luar melalui hubungan dagang dengan akses sungai dan laut menjadi transportasi utama. Sebut saja Kerajaan Panei, Kerajaan Aru Barumun, Kerajaan-kerajaan di Tanah Simalungun, Nagur (Nakur), Gayo, Kerajaan Haru di daerah Medan sekitarnya yang terdiri dari Kerajaan Wampu, Kerajaan Delitua, sampai kepada kerajaan-kerajaan berbentuk kesultanan seperti di Hamparan Perak dan Deli.

Pada umumnya kerajaan-kerajaan Batak yang bermunculan dari klan marga yang bermukim disepanjang aliran sungai yang langsung bermuara ke pantai. Sementara kerajaan-kerajaan Batak yang bermukim di pedalaman terlindungi oleh kerajaan-kerajaan yang ada di pesisir untuk menjaga kerahasiaan bahan perdagangan menjadi misteri yang tertutupi. Kerajaan-kerajaan yang ada di pegunungan menjadi semacam kawasan suci yang eksklusive terjaga kerahasiaannya dari pengamatan orang/bangsa luar. Pengaruh budaya luar dan faham kepercayaan tidak luput mempengaruhi kultur purba Bangsa Batak sehingga terjadinya perubahan istilah original Batak menjadi Melayu. Sementara kultur primitif purba tetap lestari terjaga dari pengaruh luar dan menjadi ekslusif sebagai Tanah Suci leluhur Bangsa Batak di kawasan pedalaman pegunungan seperti di Toba dan Silindung.

Pada era yang bersamaan bertumbuh juga kerajaan-kerajaan yang bertetangga dengan Tanah Batak seperti Kerajaan Pasai, Samudra di Aceh. Intervensi kerajaan dari luar Sumatra tergiur pula dengan kekayaan alam yang ada, seperti dari Tamil Cola, termasuk Singosari dari Jawa yang kemudian Majapahitpun menguasainya. Sumpah Palapa Gajah Mada untuk menguasai kebesaran kerajaan Haru terpenuhi.

Kekayaan alam yang tiada taranya ini menggerakkan para petualang-petualang Eropah untuk secara langsung mencari tau dimana sumber kekayaan itu untuk selanjutnya menguasai bahan perdagangan dunia tersebut. Banyak ekspedisi kelautan yang dikirim oleh bangsa-bangsa Eropah. Marco Polo 1290 (1292) yang mengunjungi Fanfur atau Fansur sekaran disebut Barus sebagai tempat asal kapur barus (camphor) yang harganya setara emas untuk ukuran berat yang sama. Juga menyebutkan bahwa penduduknya bercocok tanam padi dan suka meminum tuak, dan disebutkan pula bahwa bahasanya agak khusus. Nicolo Conti dari Venesia di tahun 1449 mengatakan bahwa dia mengunjungi Sumatra yang di jaman purba disebut Taprobane dan menemukan penduduknya disebut Batech atau Batta. Tome Pires 1512-1514 menyebutkan terjadinya perdagangan dengan Bata. Odarus Barbosa 1516 menyebutkan bahwa penduduk Sumatra yang ada di pesisir sudah menganut faham Muhammad (Mohametan) sementara di pedalaman masih menganut paganisme. Sepucuk surat dari Raja Portugal – Emanuel kepada Paus Leo-X di tahun 1513 bahwa utusannya bernama Juan de Barros, Castaneda, Osorius dan Maffeus dalam suatu operasi yang disebut Diogo Lopez de Sequeira menemukan Zamatra (Sumatra) tepatnya di Pedir dan Pase di tahun 1509, dimana 2 tahun kemudian Alfonso de Alboquesque menyerang Malaka di tahun 1511. Disebutkan bahwa di daerah semenanjung banyak terdapat mas yang didatangkan dari daerah Monancabo (Minangkabau) dan Barros (Barus) di negri pulau bernama Camatra.

Wiliam Marsden seorang gubernur Bengkulu mengatakan bahwa Batak adalah sebuah bangsa di Sumatra yang paling jelas keberadaannya sebagai penduduk asli dibanding penduduk lainnya yang ada di Pulau Sumatra. Sangat terlihat perbedaannya yang sangat luarbiasa kehebatan kulturnya, sifat dan kebiasaannya.

Marsden memetakan batas-batas Tanah Batak dimulai dari utara berbatasan dengan Aceh dipisahkan oleh gunung Papa dan gunung Deira, di selatan berbatasan dengan Rau atau Rawa (sekarang Rao di Sumatra Barat), memanjang sepanjang Pantai Barat dari sungai Singkil sampai ke Tabuyong dan daratannya berbatas dengan Air Bangis sampai ke Pantai Timur yang dibatasi oleh kekuasaan Melayu (Riau/Jambi) dan Aceh. Dikatakan sangat banyak penduduknya terutama di pusat Tanah Batak dimana terletak danau yang sangat besar (Danau Toba). Tanahnya subur dan pertanian menyebar merata dibanding daerah bagian Selatan. Berada pada deretan Bukit Barisan yang bermula dari selat Sunda dan berakhir di Gunung Passumah (Gn. Ophir).

Marsden kemudian menguraikan pembagian districts (wilayah) berdasarkan data pemukiman Inggris, bahwa Bangsa Batak terbagi atas Batak Angkola, Batak Padambola (Padang Bolak), Batak Mandiling (Mandailing), Batak Toba, Batak Silindong (Selindung), dan Batak Singkel (Singkil). Batak Angkola disebutkan terdiri dari 5 suku (marga), Batak Padang Bolak terdiri dari 3 suku, Batak Mandailing terdiri dari 5 Suku. Batak Silindung terdiri dari banyak wilayah dimana rajanya bermukim di Silindung. Bahan-bahan mesiu (gun-powder) diproduksi di Silindung, tepatnya di tempat bernama Bata gopit (Batugopit) di kaki gunung aktif (Dolok Martimbang) yang menghasilkan belerang dan digunakan untuk pembuatan mesiu.

Perjalanan waktu yang panjang menunjukkan terjadinya degradasi Batak. Kerajaan-kerajaan Batak yang bermunculan di pesisir sebagai bumper zone penjagaan kemisteriusan dan kesucian Tanah Batak di pedalaman ternyata menjadikan hilangnya identitas Batak berubah menjadi Melayu. Tak bisa dipungkiri bahwa intensitas interaksi dengan bangsa lain dan pengaruh budaya dan kepercayaan terhadap Bangsa Batak yang ada dipesisir. Gelombang pengaruh besar ini berakibat merenggangnya intensitas hubungan kultur dengan pusat Tanah Batak. Terbentuklah kultur baru, terbentuk pula bangsa baru yang disebut Bangsa Melayu. Itulah pra-sejarah Bangsa Batak.

Pada media-sejarah Bangsa Batak masih ada terpelihara kultur budaya Bangsa Batak walaupun mulai dimasuki oleh Bangsa Eropah yang berorientasi kepada kolonisasi perdagangan hasil bumi. Kerajaan-kerajaan Batak yang ada di Pesisir Pantai Timur seperti Kerajaan Aru praktis berubah menjadi Melayu akibat orientasi hubungan yang intensif dengan Malaka dan akar budaya tulis sudah tidak terpakai lagi. Anutan faham Mohametan dengan sendirinya mempercepat putusnya hubungan pesisir dengan Pusat Tanah Batak yang masih ketat menganut keasliannya.

Sementara intensitas hubungan Bangsa Batak di Mandailing dengan Bangsa Minangkabau di perbatasannya juga semakin tinggi walaupun masing-masing kultur tidak secara mendasar membaur karena memang tatanan adat istiadat paternalis dan maternalis yang kontradiktif berbeda. Keagungan budaya tulis dengan Aksara Batak masih terpelihara di kawasan ini, dan inilah yang membedakan kebanggaan eksklusifisme Bangsa Batak di Mandailing tetap dipertahankan oleh mereka dibanding Bangsa Minangkabau yang memang tidak memiliki aksara. Faham Mohametan yang sudah dianut Bangsa Minangkabau ratusan tahun sebelumnya ternyata tidak secara langsung terjadinya pembauran yang membentuk identitas baru bagi Bangsa Batak di Mandailing.

Intensitas perdagangan di perbatasan Aceh dan Pusat Tanah Batak tidak lagi aktif sebagai pintu perdagangan yang sudah diambil alih oleh Malaka. Tidak ada konflik kultur terjadi di kawasan ini. Konflik kepentingan pengaruh jalur perdagangan hanya terjadi dengan kerajaan-kerajaan di Tanah Batak yang sudah menjadi Melayu. Oleh karena itu, pengaruh faham Mohametan diperbatasan ini tidak secara drastis menjadi konflik kultur.

Terjadinya pergolakan faham Mohametan dari aliran yang dibawakan oleh kaum Paderi pada Bangsa Minangkabau yang menghancurkan kultur asli Bangsa Minangkabau ternyata kemudian membawa bencana besar pada Bangsa Batak. Dekulturisasi besar-besaran terjadi dimulai dari Bangsa Batak di Mandailing oleh kaum Paderi, setelah menghancur leburkan Bangsa Minangkabau. Setelah Bangsa Batak di Mandailing di akuisisi oleh kaum Paderi dan dengan secepat kilat menjalar ke Bangsa Batak di Padang Bolak dan Angkola. Terjadi dekulturisasi besar-besaran pula pada Bangsa Batak di Padang Bolak dan Angkola. Pusat Bangsa Batak di Silindung dan Toba terancam diakuisisi oleh Paderi. Tidak seperti Bangsa Batak di Angkola, Padang Bolak, Mandailing yang dengan cerdas secara ‘monggo’ mengadopsi faham baru itu, sehingga kepunahanpun tidak terjadi.

Bangsa Batak di Angkola, Padang Bolak, Mandailing yang sudah mengalami dekulturisasi oleh Paderi, secepat kilat hanya dalam 2 tahun berubah menjadi Paderi karbitan. Lalu mereka berupaya untuk memunahkan Pusat Bangsa Batak di Silindung dan Toba. Bangsa Batak di Silindung dan di Toba hampir dipunahkan. Tiga perempat jumlah Bangsa Batak di Silindung dan di Toba punah terbunuh dengan pedang. Perampasan harta, pembumi-hangusan, perkosaan lalu dibunuh. Mujizatpun datang -entah karena apa- , Paderi yang sudah menguasai Tanah Batak di Silindung dan di Toba, secara tiba-tiba merasa ketakutan sehingga lari tunggang langgang sambil diserang dari belakang. Menjadi Paderi karbitan ternyata tidak sertamerta membuahkan hasil gemilang bagi Paderi. Pemberontakan demi pemberontakan ternyata timbul ditengah Bangsa Batak yang ada di Angkola, Padang Bolak, dan Mandailing. Mereka saling bunuh, bahkan meminta bantuan pada calon penjajah Belanda yang memang baru masuk ke Tanah Batak untuk menjajah. Dalam kurun waktu hanya 4 tahun saja Bangsa Batak sudah di agitasi oleh Paderi, mengalami dekulturisasi, depresi, hilang kepercayaan diri dan tanpa pegangan. Perang saudara ini seharusnya memaknai bahwa kesombongan Bangsa Batak di pusat kekuasaannya yang diagungkan selama ribuan tahun, dapat runtuh hanya dalam 4 tahun saja.

Masuknya penjajahan Belanda ke Tanah Batak menjadi lanjutan kehancuran kultur Bangsa Batak. Mulai adanya kesadaran dekulturisasi oleh Paderi memunculkan pemberontakan kepada Paderi karbitan dan dengan sendirinya terjadi perang antar saudara yang saling memusnahkan. Kesadaran ini ternyata tidak membawa Bangsa Batak di Angkola, Padang Bolak, dan Mandailing kembali kepada kultur aslinya, malah menjadi faham anutan oleh karena penjajahan Bangsa Belanda bukan dianggap sebagai penjajahan wilayah atas kepentingan komersial melainkan dianggap sebagai penjajahan kontra faham yang bermusuhan.

Kegagalan dekulturisasi Bangsa Batak di Silindung dan di Toba oleh Paderi, ternyata masih berlanjut dengan masuknya evangelisasi Kristen. Bangsa Batak di Silindung dan Toba sudah kehilangan kepercayaan diri dan terombang ambing tanpa pegangan. Evangelisasi Kristen di Tanah Batak Silindung seolah mendapat berkat tersembunyi (blessing in disguise) akibat perang saudara semasa Paderi. Secara perlahan dan pasti Evangelisasi Kristen dengan aksi damainya berhasil melakukan dekulturisasi Bangsa Batak secara mulus. Berhasilnya dekulturisasi Bangsa Batak di Silindung dan Toba oleh Evangelisasi Kristen, berlanjut pula dengan penjajahan oleh Bangsa Belanda sehingga muncul Perang Batak yang diproklamirkan oleh Sisingamangaraja-XII di tahun 1877 dan berakhir di tahun 1907.

Jaman pergerakan kemerdekaan juga tidak luput dari andil orang-orang Batak sebagai komponen Bangsa Batak. Jong Batak sebagi wadah pergerakan oleh pemuda yang berwujud penjadi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 menyatukan tekat dengan bersumpah bahwa Bangsa Batak ikut bertumpah darah satu Tanah Air Indonesia, ikur berbangsa satu Bangsa Indonesia, ikut bertanah air satu Tanah Air Indonesia. Sekarang Tanah Batak sudah menjadi Tanah Air Indonesia.

Pada era kemerdekaan setelah Indonesia membentuk Negara Republik Indonesia, orang Batak menjadi Perdana Mentri di tahun 1947-1948. Era Demokrasi Parlementer juga orang Batak menjadi Perdana Menteri di tahun 1955-1956. Kemudian dari era Demokrasi Terpimpin. Era Orde Baru, ada orang Batak menjadi Wakil Presiden. Era Reformasi sampai sekarang, ada saja orang Batak yang ikut mengurusi negara ini.

Apa Itu Korupsi? Adakah itu terdapat di tanah Batak?

Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok).
Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut:

* perbuatan melawan hukum;
* penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
* memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
* merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, di antaranya:

* memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);
* penggelapan dalam jabatan;
* pemerasan dalam jabatan;
* ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara);
* menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.

Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas|kejahatan.

Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.

Nah di tanah Batak apa saja ya praktek yang mengarah ke korupsi itu??
(benar-tidaknya, tergantung penilaian kaca mata kita masing)

1. Hepeng parkopi (uang kopi): Uang tambahan yang diberikan ketika melakukan suatu urusan, misalnya berkaitan dengan urusan administrasi.

2. Hepeng par sigaret (uang rokok): Uang yang dibayarkan oleh seseorang untuk mempercepat penyelesaian suatu urusan. Istilah ini muncul ketika warga harus berurusan dengan aparat, terutama ketika mengurus administrasi, seperti surat izin.

3. Hepeng pataruon (uang antar): Uang yang diberikan kepada seseorang untuk meneruskan urusan kepada seseorang. Misalnya uang diberikan oleh warga kepada pegawai PDAM yang melakukan pencatatan meteran dan menagih pembayaranya. Warga bersedia melakukan itu karena merasa sudah ditolong sehingga tidak perlu bersusah payah membayar ke loket.

4. Uang pago-pago: Uang yang diberikan suatu proyek atau kegiatan yang dibagi-bagikan. Misalnya, ketika mendapatkan proyek, kita harus memberikan uang pago-pago kepada pemberi proyek.

5. Silua: Menggambarkan kebiasaan untuk membawa oleh-oleh ketika berkunjung ke rumah seseorang. Kebiasaan ini kemudian berkembang tidak hanya dilakukan ketika berkunjung ke rumah kerabat, tetapi juga dilakukan oleh bawahan ketika berkunjung ke rumah atasan agar memperoleh kenaikan jabatan.

6. Manulangi: Membuat suatu acara dengan memberi makan kepada seseorang yang dihormati.

7. Hepeng hamauliateon: Uang yang diberikan kepada seseoarang karena telah membantu mempercepat penyelesaian suatu urusan, misalnya dalam pengurusan administrasi.

8. Hapeng siram: Uang yang diberikan untuk menyogok seseorang agar urusannya dipermudah.


Bah horas ma ate...!!!